Angka tersebut masih jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik, ketika rata-rata sekitar 130 kapal per hari melintasi jalur strategis tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun jalur pelayaran telah dibuka kembali, kepercayaan dan stabilitas operasional masih dalam tahap pemulihan.
Situasi semakin kompleks setelah Iran mengeluarkan peringatan kepada kapal tanker agar mengikuti rute yang telah ditetapkan, dengan ancaman tindakan tegas bagi pelanggar.
Baca Juga:17 Tahun PMHB: Bukan Sekadar Anniversary, Ini Gerakan Besar Komunitas Honda Bekasi!Peserta JKN Tembus 282,7 Juta Jiwa, Dampaknya ke Ekonomi Nasional Capai Rp 129 Triliun
Hal ini menandakan bahwa risiko geopolitik di kawasan tersebut belum sepenuhnya hilang.
Kombinasi peningkatan produksi OPEC+ dan bertahannya pemulihan distribusi global mulai memberikan tekanan moderat terhadap harga minyak dunia.
Sejak awal 2026 hingga awal Juli, harga minyak Brent tercatat berada di kisaran rata-rata sekitar US$87 per barrel.
Dengan asumsi stabilisasi di level US$70 per barrel hingga akhir tahun, rata-rata harga Brent 2026 diproyeksikan berada di sekitar US$79 per barrel.
Meski angka ini masih di atas asumsi APBN 2026 yang berada di kisaran US$70 per barrel, tekanan ekstrem akibat konflik diperkirakan telah mereda.
Bagi negara importir minyak seperti Indonesia, kondisi ini membawa implikasi yang cukup signifikan.
Penurunan harga minyak berpotensi menekan nilai impor migas, yang selama ini menjadi salah satu penyumbang defisit neraca perdagangan, khususnya pada Mei 2026.
Baca Juga:BEI Ubah Aturan Saham Papan Pemantauan Khusus: 3 Kriteria Dihapus, Perdagangan Bakal Lebih DinamisBPJS Ketenagakerjaan Banjar Gandeng BTN Sosialisasikan Program MLT, Dorong Perluasan Perlindungan Pekerja
Dengan biaya impor energi yang lebih rendah, neraca perdagangan Indonesia berpeluang mengalami perbaikan, baik melalui penurunan defisit maupun penguatan kembali surplus perdagangan pada periode berikutnya.
Meski tren saat ini mengarah pada normalisasi, pasar minyak global masih berada dalam fase sensitif.
Ketergantungan pada stabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat setiap perubahan kecil pada kebijakan produksi maupun keamanan pelayaran dapat kembali menggerakkan harga secara signifikan.
Kebijakan OPEC+ ke depan akan menjadi faktor kunci, terutama jika pemulihan permintaan global tidak berjalan secepat pemulihan pasokan.
Dalam kondisi tersebut, keseimbangan pasar dapat kembali berubah, antara surplus pasokan atau potensi volatilitas baru.
Untuk saat ini, pasar tampak bergerak menuju fase stabilisasi, namun belum sepenuhnya keluar dari risiko ketidakpastian yang masih melekat pada jalur energi global utama. (*)
