RADARTASIK.ID – Pasar energi global kembali bergerak dinamis setelah aliansi produsen minyak terbesar dunia, OPEC+, pada Minggu (5/7/2026) menyepakati kenaikan target produksi minyak sebesar 188.000 barrel per hari mulai Agustus 2026.
Kebijakan ini menandai kenaikan produksi selama lima bulan berturut-turut, di tengah proses pemulihan pasokan global yang mulai stabil pasca terganggunya jalur distribusi utama di Timur Tengah.
Langkah OPEC+ tersebut muncul pada saat pasar minyak dunia masih berada dalam fase penyesuaian setelah ketegangan geopolitik yang sempat mengganggu jalur perdagangan energi utama, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
Baca Juga:17 Tahun PMHB: Bukan Sekadar Anniversary, Ini Gerakan Besar Komunitas Honda Bekasi!Peserta JKN Tembus 282,7 Juta Jiwa, Dampaknya ke Ekonomi Nasional Capai Rp 129 Triliun
Berdasarkan catatan Stockbit, pemulihan produksi minyak mulai terlihat sejak Juni 2026, setelah kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran ditandatangani pada 17 Juni 2026.
Kesepakatan tersebut membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz yang sebelumnya sempat mengalami gangguan serius.
Data survei yang dirilis oleh Reuters menunjukkan bahwa produksi minyak OPEC pada Juni 2026 melonjak sekitar 3,3 juta barrel per hari (bpd), mencapai total 19,43 juta bpd.
Lonjakan ini dipicu oleh reaktivasi sumur-sumur minyak di negara-negara Teluk yang sebelumnya menghentikan produksi akibat keterbatasan kapasitas penyimpanan selama penutupan jalur distribusi.
Dengan kembali normalnya aktivitas di kawasan tersebut, pasar mulai menerima tambahan pasokan yang cukup signifikan dalam waktu relatif singkat.
Meski terjadi lonjakan produksi, pemulihan sektor minyak global masih berlangsung bertahap.
Analisis dari Wood Mackenzie pada 15 Juni 2026 memperkirakan bahwa sumur minyak yang terdampak penutupan Selat Hormuz membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk mencapai 70 persen kapasitas produksi awal.
Baca Juga:BEI Ubah Aturan Saham Papan Pemantauan Khusus: 3 Kriteria Dihapus, Perdagangan Bakal Lebih DinamisBPJS Ketenagakerjaan Banjar Gandeng BTN Sosialisasikan Program MLT, Dorong Perluasan Perlindungan Pekerja
Untuk kembali ke level 90 persen, diperkirakan dibutuhkan waktu hingga enam bulan.
Sementara itu, International Energy Agency mencatat bahwa gangguan sebelumnya menyebabkan produksi minyak global sempat turun lebih dari 14 juta bpd, atau sekitar 14 persen dari total permintaan dunia.
Angka ini menunjukkan skala gangguan yang sangat besar terhadap rantai pasok energi global.
Di sisi lain, pemulihan tidak hanya terjadi pada sisi produksi, tetapi juga pada aktivitas pengiriman minyak.
Data dari MarineTraffic menunjukkan bahwa pada 2 Juli 2026 hanya terdapat 38 kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, turun dari 48 kapal pada hari sebelumnya.
