Bielsa tetap ingin Uruguay memainkan gaya khasnya, yakni duel satu lawan satu di seluruh area lapangan atau sistem man-to-man saat menghadapi Spanyol.
Sebaliknya, mayoritas pemain inti menginginkan pendekatan yang lebih realistis.
Mereka berharap Uruguay menerapkan blok pertahanan rendah untuk meredam kekuatan Spanyol, kemudian memanfaatkan serangan balik cepat melalui kecepatan para pemain depan.
Perbedaan pandangan tersebut dikabarkan ditolak mentah-mentah oleh Bielsa.
Pelatih asal Argentina itu disebut tidak ingin mengubah filosofi permainannya meski lawan yang dihadapi merupakan salah satu kandidat kuat juara dunia.
Baca Juga:Como Bidik Lulusan Akademi AC Milan untuk Gantikan Nico PazReal Madrid Lelang Nico Paz: Trio Inggris Ancam Kubur Impian Inter Milan
Laporan yang beredar juga menyebut Bielsa kemudian mengumpulkan seluruh pemain dan menyampaikan pidato selama hampir satu jam.
Dalam pidato tersebut, ia menegaskan kontribusinya terhadap perkembangan karier beberapa pemain Uruguay sekaligus menuduh ada pihak di dalam skuad yang telah dua kali berusaha menggulingkannya dari kursi pelatih.
Yang paling mengejutkan, Bielsa dikabarkan mengakui tetap memanggil beberapa pemain yang sedang cedera atau performanya menurun karena loyalitas mereka kepadanya.
Nama-nama seperti Darwin Núñez dan José María Giménez disebut sebagai contoh pemain yang tetap mendapat tempat berkat kepercayaan sang pelatih.
Kabar tersebut tentu menambah tekanan bagi Uruguay menjelang duel krusial melawan Spanyol.
Jika konflik internal benar-benar memengaruhi ruang ganti, tantangan La Celeste untuk menumbangkan salah satu favorit juara akan semakin berat.
Kini, semua mata tertuju pada apakah Marcelo Bielsa mampu meredam gejolak internal sekaligus membawa Uruguay meraih kemenangan yang sangat dibutuhkan, atau justru perbedaan pandangan antara pelatih dan para pemain akan menjadi awal dari berakhirnya perjalanan mereka di Piala Dunia 2026.
