PANGANDARAN, RADARTASIK.ID–Benih Lobster di beberapa lokasi budidaya di Pangandaran didapati banyak yang mati. Hal ini dicurigai merupakan dampak dari cemaran batubara yang tercecer di area pantai atau pesisir.
Salah seorang pembudidaya, Aef Saepuloh mengatakan benih lobster yang dia kelola mendadak mati beberapa hari lalu. Saat hendak memindahkan benih ke area pemeliharaan, seluruh benih yang disiapkan sudah dalam kondisi tidak bernyawa.
“Awalnya tidak ada masalah. Kondisi budidaya normal. Tapi ketika benih akan dimasukkan ke tempat pemeliharaan, ternyata semuanya sudah mati,” ungkapnya Rabu (24/6/2026).
Baca Juga:Didasari Rasa Kecewa, Sebagian Kader PAN di Kota Tasikmalaya Undur Diri6 Bulan Insentif Guru di Kota Tasikmalaya Belum Dibayar, Pengamat Soroti Sikap Pimpinannya
Ia memperkirakan jumlah benih yang mati mencapai sekitar 500 ekor. Dengan nilai benih berkisar Rp10 ribu per ekor, kerugian langsung yang dialami mencapai sekitar Rp5 juta.
Aef menilai kematian benih lobster tersebut karena perubahan kualitas air laut. Pasalnya, sistem budidaya yang digunakannya sangat bergantung pada pasokan air laut dari wilayah sekitar. Selain itu, kondisi cuaca yang panas dalam beberapa hari terakhir juga dinilai dapat memengaruhi kondisi lingkungan budidaya.
Meski memiliki dugaan awal, Aef menegaskan bahwa penyebab pasti kematian benih lobster masih perlu dibuktikan melalui kajian dan pemeriksaan lebih lanjut oleh instansi terkait. Namun jika dicermati, hal ini terjadi sekitar dua hari setelah tongkang batu bara dilaporkan kandas di lokasi yang tidak jauh dari tempat usahanya..
“Lokasi budidaya ini tidak jauh dari titik kandasnya tongkang, ada sekitar 500 meter dari kawasan pesisir tempat aktivitas budidaya dilakukan ini,” ucapnya.
Dekatnya lokasi tersebut membuatnya khawatir terhadap kemungkinan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari insiden tersebut. Atas peristiwa yang dialaminya, ia berharap pihak perusahaan yang bertanggung jawab atas tongkang dapat memberikan perhatian terhadap kondisi masyarakat pesisir yang terdampak.(Deni Nurdiansah)
