Namun Conceicao menegaskan bahwa para pemain Portugal tidak memiliki kewajiban untuk selalu mengoper bola kepada megabintang berusia 41 tahun tersebut.
“Kalau berbicara soal mencetak gol, tidak ada yang bisa menyamai Cristiano Ronaldo,” jelas Conceicao.
“Tetapi saya akan mengoper bola kepada pemain yang berada di posisi terbaik. Kami tidak wajib selalu mencari Cristiano. Semua terjadi secara naluriah dalam hitungan detik di lapangan,” tambahnya.
Baca Juga:Pelatih Kiper AC Milan Ucapkan Selamat Tinggal, Agen Mike Maignan Sibuk Cari Klub Baru AC Milan Mirip Klub Ingris, Amorim Jadi Pelatih Sekaligus Direktur Teknik
Pernyataan itu sekaligus menunjukkan bahwa Portugal ingin bermain lebih fleksibel dan tidak hanya mengandalkan penyelesaian akhir dari Ronaldo.
Meski demikian, Conceicao tetap memberikan penghormatan tinggi kepada mantan bintang Real Madrid dan Manchester United tersebut.
“Cristiano adalah contoh bagi semua orang karena karier yang telah ia jalani dan rasa lapar yang masih ia miliki setiap hari. Jika dia yang sudah memenangkan begitu banyak trofi masih memiliki motivasi sebesar itu, maka kami yang lebih muda harus memiliki semangat yang lebih besar lagi,” sanjungnya.
Portugal juga tidak ingin meremehkan Uzbekistan yang kini dilatih legenda sepak bola Italia, Fabio Cannavaro.
Menariknya, Cannavaro pernah bermain bersama ayah Francisco Conceicao, Sergio Conceicao, saat masih aktif sebagai pesepak bola profesional.
Meski demikian, Francisco mengaku tidak pernah membahas hal tersebut secara khusus.
“Saya tahu Cannavaro adalah pemain hebat dan legenda sepak bola dunia. Tetapi kami lebih fokus pada pertandingan,” tuturnya.
Baca Juga:Siapa Domenico Teti? Calon Direktur Baru AC Milan Pilihan CardinaleTrevisani Minta AC Milan Manjakan Ruben Amorim: Tak Ada Pelatih yang Sukses di Klub yang Berantakan
Ia juga memperingatkan rekan-rekannya agar bersiap menghadapi taktik khas pelatih Italia yang terkenal disiplin dalam bertahan.
“Saya mengenal filosofi pelatih-pelatih Italia. Saya yakin strategi mereka adalah menunda gol kami selama mungkin dan membuat pertandingan menjadi sulit. Kami tahu tantangan yang menunggu,” tutup Conceicao.
Laga melawan Uzbekistan kini menjadi momen penentuan bagi Portugal. Jika berhasil meraih tiga poin, peluang lolos ke fase gugur akan kembali berada sepenuhnya di tangan mereka.
Namun jika kembali gagal menang, tekanan terhadap Roberto Martinez dan Cristiano Ronaldo dipastikan akan semakin besar.
Apalagi setelah performa mengecewakan pada laga pembuka yang memunculkan pertanyaan apakah Portugal masih terlalu bergantung kepada sang kapten atau sudah siap menjadi tim yang lebih kolektif.
