Sementara itu, Ketua Umum FOSSMA, Dadang Abdul Patah, menegaskan bahwa pertemuan tersebut tidak memiliki agenda tertentu.
Menurutnya, kunjungan para pengurus FOSSMA murni memenuhi undangan silaturahmi, doa bersama, tahlil, dan takziah keluarga besar.
Dadang menjelaskan bahwa FOSSMA dibangun sebagai wadah silaturahmi yang terbuka bagi siapa saja. Tidak membedakan suku. Tidak membedakan ras. Tidak membedakan golongan. Bahkan tidak membedakan latar belakang sosial.
Baca Juga:Safety Riding Antar Satlantas, Polres Tasikmalaya Kota Tembus Tiga Besar JabarDiduga Korsleting Listrik, Kamar Rumah di Tawang Kota Tasikmalaya Ludes Terbakar
FOSSMA ingin menjadi ruang perjumpaan. Tempat orang-orang baik saling menguatkan. Tempat berbagai elemen masyarakat bertemu untuk menciptakan manfaat.
Menurut Dadang, organisasi yang lahir dari lingkungan masjid harus membawa karakter yang berbeda.
Karakter yang meneladani empat sahabat besar Rasulullah SAW: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Kejujuran. Keberanian. Amanah. Kebijaksanaan. Kepedulian sosial.
Nilai-nilai itulah yang ingin ditanamkan kepada seluruh anggota. “Bagi kami, lahir dari lingkungan masjid berarti memiliki tanggung jawab memakmurkan masjid dan menjaga akhlak di tengah masyarakat,” tutur Dadang.
Menjelang sore, pertemuan itu berakhir. Piring-piring mulai kosong. Gelas-gelas teh mulai mengering. Satu per satu tamu berpamitan.
Tetapi ada satu hal yang tertinggal. Bukan ikan bakarnya. Bukan sambalnya. Melainkan pesan sederhana tentang arti sebuah janji.
Di negeri yang terlalu sering dipenuhi janji politik, janji pembangunan, dan janji perubahan yang entah kapan ditepati, kedatangan Azies hari itu menghadirkan pelajaran kecil.
Baca Juga:Wakil Wali Kota Tasikmalaya Usul Jika CPNS Dibuka Tahun ini Dahulukan PPPK Paruh WaktuPAD Seret, Kata DPRD: Ujian untuk Kepemimpinan Wali Kota Tasikmalaya
Bahwa kadang-kadang kepercayaan masyarakat tidak dibangun oleh pidato besar. Melainkan oleh hal sederhana. Datang ketika sudah berjanji akan datang. Dan itu, rupanya, masih memiliki nilai yang mahal. (red/rezza rizaldi)
