TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Senin siang itu, 22 Juni 2026, langit Cicurug Kota Tasikmalaya tidak terlalu cerah. Tetapi halaman rumah tua itu terasa hangat.
Bukan karena matahari. Melainkan karena sebuah janji yang akhirnya ditepati. H. Azies Rismaya Mahpud datang.
Bukan datang sebagai pengusaha besar. Bukan pula sebagai tokoh nasional yang memiliki jaringan sampai ke Jakarta. Ia datang sebagai seorang anak kampung yang pulang ke rumah orang tuanya.
Baca Juga:Safety Riding Antar Satlantas, Polres Tasikmalaya Kota Tembus Tiga Besar JabarDiduga Korsleting Listrik, Kamar Rumah di Tawang Kota Tasikmalaya Ludes Terbakar
Baju putih melekat di tubuhnya. Kopiah hitam khas yang selalu menjadi identitasnya tetap bertengger rapi di kepala. Celana katun sederhana melengkapi penampilannya.
Tidak ada kesan ingin menunjukkan kemewahan. Padahal ia baru datang dari Jakarta. Perjalanan itu sengaja ditempuh untuk memenuhi satu hal yang sederhana tetapi semakin langka dalam kehidupan publik hari ini: menepati janji.
Sudah lama ia berjanji akan bertemu dengan pengurus Forum Silaturahmi Organisasi Sosial Masjid (FOSSMA) Kota Tasikmalaya. Dan hari itu, janji tersebut dibayar lunas.
Rumah keluarga besar Azies di Cicurug bukan sekadar bangunan tua. Rumah itu menyimpan sejarah panjang keluarga Mahpud.
Di rumah itulah para pengurus FOSSMA berkumpul. Suasana berlangsung santai. Tidak ada protokoler yang berlebihan.
Tidak ada panggung. Tidak ada baliho raksasa.
Yang ada hanya tikar, kursi sederhana, obrolan hangat, dan hidangan khas Sunda yang membuat siapa pun sulit menolak untuk menambah nasi.
Ikan mujair bakar. Ayam bakar. Tahu dan tempe. Lalaban segar. Sambal yang cukup membuat dahi berkeringat.
Baca Juga:Wakil Wali Kota Tasikmalaya Usul Jika CPNS Dibuka Tahun ini Dahulukan PPPK Paruh WaktuPAD Seret, Kata DPRD: Ujian untuk Kepemimpinan Wali Kota Tasikmalaya
Menu yang justru sering hilang ketika seseorang terlalu lama tinggal di kota besar. Di meja makan itu, percakapan mengalir tanpa sekat.
Mereka tidak sedang membahas proyek. Tidak sedang membicarakan jabatan. Tidak sedang menghitung peluang politik. Mereka sedang berbicara tentang masjid. Tentang masyarakat. Tentang Kota Tasikmalaya.
Ketika diberikan waktu berbicara, putra ketiga keluarga pemilik perusahaan transportasi Mayasari itu menyampaikan pesan yang cukup keras. Tetapi disampaikan dengan nada tenang.
“FOSSMA membawa nama masjid. Jangan pernah menjual agama untuk kepentingan pribadi.” Kalimat itu terdengar sederhana. Namun sesungguhnya sangat dalam.
