Terkait informasi adanya mesin yang rusak akibat terlalu lama tidak digunakan, Anang membantah kabar tersebut.
Ia menjelaskan sebagian besar alat belum sempat diuji coba karena pasokan listrik dari PLN baru tersedia belakangan.
“Bukan rusak. Alat-alat itu baru dipasang dan belum diuji coba karena sebelumnya terkendala listrik. Jadi hasil operasionalnya memang belum bisa terlihat,” jelasnya.
Baca Juga:Harga Kedelai Impor Naik, Ratusan Perajin Tahu di Tasikmalaya Pangkas Produksi dan Naikan Harga JualParkir Kota Tasikmalaya Dikelola Yayasan, Harapan Tertib Mengaspal di Empat Ruas Jalan Strategis
Meski alat sudah tersedia, Anang menilai hasil pengolahan tetap tidak akan maksimal apabila seluruh komponen yang direncanakan belum dipasang secara lengkap.
Saat ini, efektivitas IPAL juga belum dapat diukur secara pasti karena harus melalui tahapan operasional dan pengujian laboratorium.
Hasil uji baku mutu nantinya akan menjadi penentu apakah air hasil pengolahan layak disalurkan atau masih membutuhkan penyempurnaan lebih lanjut.
“Minimal harus dilihat setelah beroperasi dan diuji laboratorium. Kalau hasilnya memenuhi baku mutu, baru bisa dikatakan berhasil. Hari ini belum bisa disimpulkan karena prosesnya belum sampai ke sana,” pungkasnya.
Sebelumnya, aktivis lingkungan Agus Sofyan alias Jarwo menyoroti proyek IPAL TPA Ciangir yang dinilai belum menunjukkan fungsi optimal meski menghabiskan anggaran lebih dari Rp3,5 miliar.
Ia mempertanyakan efektivitas perencanaan proyek yang molor dari target awal dan baru mendapatkan pasokan listrik beberapa waktu terakhir.
DLH Kota Tasikmalaya sendiri menargetkan seluruh penyempurnaan teknis, termasuk penyediaan air bersih, jaringan pipa dan perbaikan aerator, dapat diselesaikan sebelum 1 Juli 2026. (rezza rizaldi)
