Bagian lain yang mendapat penekanan adalah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Harapan publik sedang tinggi. Program-program pemerintah harus sampai kepada rakyat.
Dan menurut H Amir, kader Gerindra memiliki tugas tambahan. Bukan hanya mengawal program. Tetapi juga menjelaskan program. Jangan sampai keberhasilan pembangunan kalah oleh buruknya komunikasi. Karena dalam politik modern, fakta sering kali kalah cepat dibanding persepsi.
Namun sesungguhnya pidato H. Amir yang akrab disapa publik H. Aming mengarah ke satu tujuan. Tahun 2029. Pemilu berikutnya.
Baca Juga:Muskorda Jadi-jadian!Demy Anggaran!
Ia bahkan menegaskan satu kalimat yang langsung disambut peserta. “Pemilu tidak dimenangkan pada tahun 2029. Pemilu dimenangkan oleh kerja politik yang dimulai hari ini.” Kalimat itu bukan slogan.
Itu rumus politik. Karena tidak ada kemenangan yang lahir mendadak. Semua kemenangan dibangun dari kerja panjang.
Dari konstituen yang dijaga. Dari relawan yang dirawat. Dari komunikasi yang dibangun terus-menerus. Dan yang paling penting, dari rekam jejak yang bisa dilihat rakyat.
Di penghujung pidatonya, Amir Mahpud mengingatkan satu hal yang sering menjadi penyakit partai politik. Perpecahan internal. Ia mengatakan perbedaan pendapat adalah hal yang biasa.
Tetapi setelah keputusan partai diambil, seluruh kader harus bergerak dalam satu komando. Soliditas, menurutnya, adalah alasan utama mengapa Gerindra mampu bertahan dan terus tumbuh sejak pertama kali berdiri. Tanpa soliditas, partai besar bisa mengecil. Dengan soliditas, partai besar bisa menjadi pemenang.
Acara itu memang bernama pendalaman tugas anggota fraksi. Tetapi yang terdengar sepanjang pidato H Amir Mahpud bukan sekadar pelajaran tentang DPRD. Yang terdengar adalah bunyi genderang konsolidasi.
Tahun 2029 memang masih jauh. Namun bagi partai politik, jarak empat tahun bukan waktu yang panjang. Karena dalam politik, kemenangan tidak lahir pada hari pencoblosan. Kemenangan lahir dari apa yang dikerjakan setiap hari sebelum hari itu datang. (red)
