Mengapa membawa nama organisasi? Dan yang paling penting, mengapa menggunakan identitas media yang tidak pernah dimintai izin? Di sinilah persoalannya.
Bukan semata soal uang. Bukan pula soal bantuan. Melainkan soal identitas. Soal kredibilitas. Soal kepercayaan publik.
Sebab logo media bukan sekadar gambar.
Ia adalah simbol kepercayaan. Dibangun bertahun-tahun. Dijaga dengan kerja keras.
Dipelihara dengan integritas.
Ketika logo itu digunakan tanpa izin, maka yang dipertaruhkan bukan hanya nama perusahaan media. Tetapi juga kepercayaan masyarakat yang selama ini mempercayainya.
Baca Juga:Demy Anggaran!Gaji Selamat, Pelayanan Tamat!
Kasus kecil ini memberi pelajaran besar. Teknologi AI memang luar biasa. Ia bisa membuat gambar dalam hitungan detik.
Membuat poster yang tampak nyata. Membuat banner yang terlihat resmi.
Bahkan membuat sesuatu yang seolah benar-benar pernah terjadi. Tetapi kecanggihan teknologi selalu memiliki dua sisi.
Bisa digunakan untuk membantu. Bisa pula digunakan secara keliru. Karena itu publik harus semakin cerdas. Semakin kritis.
Jangan langsung percaya pada setiap gambar. Jangan langsung percaya pada setiap poster. Jangan langsung percaya pada setiap informasi yang beredar di grup WhatsApp.
Periksa sumbernya. Periksa kebenarannya.
Periksa siapa yang membuatnya. Karena di era AI seperti sekarang, yang tampak nyata belum tentu benar. Dan yang viral belum tentu fakta. (red)
