Peserta didik memainkan permainan tersebut dengan memasukkan biji ke dalam lubang target menggunakan jentikan jari. Biji yang berhasil masuk kemudian dihitung sebagai perolehan poin. Dari proses tersebut, guru dapat mengembangkan materi operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian secara lebih konkret dan mudah dipahami siswa.
Tidak hanya mendukung pembelajaran matematika, permainan Simar juga dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Melalui permainan ini, siswa dapat mengenal berbagai jenis biji, tumbuhan asalnya, serta lingkungan tempat tumbuhnya. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada keterampilan berhitung, tetapi juga memperluas wawasan peserta didik tentang alam dan lingkungan sekitar.
Prof. Karlimah juga menekankan bahwa permainan tradisional memiliki potensi besar dalam penguatan karakter peserta didik. Aturan dalam permainan Simar dapat menanamkan nilai-nilai Pancasila, seperti kejujuran, sportivitas, kerja sama, disiplin, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai.
Baca Juga:DPD Partai Golkar Kabupaten Tasikmalaya Sembelih 4 Sapi dan 6 Domba pada Iduladha 1447 Hijiriah GTRA Plus Siap Bongkar Permasalahan Tanah di Kabupaten Tasikmalaya, Ini Kata Agustiana!!
Selain pelatihan, kegiatan ini juga diisi dengan sesi diseminasi hasil penelitian mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Sesi tersebut menjadi wadah berbagi pengetahuan antara akademisi, mahasiswa, dan guru terkait pengembangan pembelajaran di sekolah dasar, khususnya dalam inovasi media, strategi pembelajaran, dan pemanfaatan kearifan lokal.
Melalui pelatihan dan diseminasi tersebut, para guru diharapkan mampu mengembangkan pembelajaran matematika yang lebih inovatif, bermakna, dan relevan dengan kehidupan peserta didik. Pemanfaatan permainan tradisional Simar sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal dan penguatan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran berbasis kearifan lokal.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi sumber belajar yang kaya dan adaptif. Dengan pengemasan yang tepat, permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi media edukatif yang mendukung pencapaian kompetensi akademik sekaligus pembentukan karakter peserta didik di sekolah dasar. (rls)
