Selain itu, Allegri juga dianggap terlambat menyadari mental tim mulai runtuh setelah laga melawan Napoli.
Namun, kritik paling keras dalam tulisan Ordine justru diarahkan kepada Zlatan Ibrahimovic.
Ia menilai mantan striker Swedia itu telah menciptakan banyak “kerusakan tambahan” di ruang ganti Milan.
Baca Juga:Media Italia: Rayuan Ibrahimovic dan Cardinale Tak Cukup Yakinkan Andoni Iraola untuk Latih AC MilanMassimo Cellino Tolak Ide Galliani Kembali ke AC Milan: Sepak Bola Sudah Berubah
Ordine mengklaim Ibrahimovic beberapa kali berbicara langsung kepada pemain untuk mengubah posisi bermain mereka.
Salah satu contohnya adalah ketika Youssouf Fofana disebut ingin dimainkan di posisi sentral menggantikan Luka Modric.
Tidak hanya itu, Ibrahimovic juga dikabarkan sempat memberi sinyal kepada pemain mengenai kemungkinan kedatangan Jean-Philippe Mateta.
Menurut Ordine, tindakan semacam itu sudah melewati batas seorang petinggi klub.
“Ketika Anda hampir berkelahi dengan pelatih, itu menunjukkan bahwa Anda tidak mampu menjadi direktur, bukan hanya di Milan, tetapi bahkan di akademi Brera sekalipun,” tulisnya tajam.
Ordine kemudian membandingkan situasi tersebut dengan hubungan Paolo Maldini dan Stefano Pioli setelah Milan meraih Scudetto.
Ia mengakui keduanya juga pernah terlibat perdebatan keras, tetapi semuanya tetap berada dalam batas profesional dan penuh rasa hormat.
Baca Juga:Era Baru AC Milan: Leao Masuk Daftar Jual, Van Bommel dan Xabi Alonso Kandidat Terkuat Pengganti AllegriLeao Tanggapi Postingan Paolo Maldini usai AC Milan Pecat Allegri, Furlani, Moncada dan Tare
Ia bahkan menyebut situasi menjadi semakin buruk jika benar Antonio Cassano ikut “memanaskan” hubungan Ibrahimovic dengan Allegri melalui sejumlah percakapan pribadi.
“Kalau memang benar Cassano ikut memompa Ibrahimovic melawan Allegri, maka gambarannya sudah lengkap dan tidak bisa lagi didiskusikan secara serius,” tulis Ordine.
Di bagian akhir artikelnya, Ordine mencoba menjelaskan kesan yang ia dapat setelah bertemu langsung dengan Gerry Cardinale pada Senin lalu.
Menurutnya, Cardinale terbiasa dengan budaya Amerika Serikat yang hanya berhubungan dengan sedikit media pilihan dan menghindari konferensi pers terbuka seperti yang lazim terjadi di Italia.
Ordine menilai pendekatan itu menjadi masalah karena sepak bola Italia memiliki dinamika berbeda yang membutuhkan diplomasi lebih besar serta pemahaman mendalam terhadap kultur lokal.
Ia lalu mengaitkan situasi saat ini dengan peristiwa pemecatan Zvonimir Boban beberapa tahun lalu, yang sempat diikuti negosiasi panjang dengan Ralf Rangnick sebelum akhirnya gagal berkat mediasi Ivan Gazidis dan ketegasan Paolo Maldini.
