Ia menuduh mantan striker asal Swedia tersebut terlalu jauh masuk ke area teknis tim, termasuk menelepon pemain secara langsung dan mencoba memengaruhi keputusan-keputusan penting klub.
Tak hanya itu, Ibrahimovic juga disebut ingin membangun lingkaran orang-orang dekatnya sendiri di dalam proyek Milan, termasuk di akademi dan Milan Futuro.
Situasi tersebut membuat klub dinilai semakin kehilangan arah.
Akibatnya, kemarahan tifosi Milan kini juga terus membesar. Protes terhadap manajemen RedBird semakin sering muncul, baik di San Siro maupun di media sosial.
Baca Juga:3 Skenario Revolusi AC Milan Musim Depan: Galliani Pulang, Allegri BertahanMoggi Bocorkan Perebutan Kekuasaan Petinggi AC Milan: Allegri Diritik Usai Bertengkar dengan Ibrahimovic
Jika sebelumnya kritik lebih banyak diarahkan kepada Gerry Cardinale, kini Giorgio Furlani, Paolo Scaroni, hingga Ibrahimovic juga mulai menjadi sasaran utama kemarahan suporter.
Serafini menyebut frustrasi tifosi Rossoneri sudah mencapai titik yang sulit dikendalikan.
Bahkan, beberapa kelompok suporter dikabarkan siap terbang ke Los Angeles untuk mendatangi kantor pusat RedBird di Beverly Hills sebagai bentuk protes langsung kepada pemilik klub.
Situasi itu menunjukkan betapa besar rasa kecewa fans terhadap arah Milan saat ini.
Bagi Maldini, masalah terbesar Milan bukan hanya soal hasil pertandingan atau posisi klasemen. Yang paling mengkhawatirkan adalah hilangnya identitas klub.
Selama puluhan tahun, Milan dikenal sebagai klub dengan tradisi kuat, manajemen solid, dan mentalitas juara. Namun kini semua itu perlahan dianggap memudar.
Rossoneri memang masih memiliki nama besar, tetapi banyak pihak merasa klub sudah kehilangan jiwa yang dulu membuat mereka disegani di Eropa.
