Moggi Bocorkan Perebutan Kekuasaan Petinggi AC Milan: Allegri Diritik Usai Bertengkar dengan Ibrahimovic

Luciano Moggi
Luciano Moggi Foto: Tangkapan layar Instagram
0 Komentar

Ia bahkan menyindir bahwa meski Milan merekrut orang terbaik, keputusan penting klub tetap dikendalikan pihak lain, termasuk urusan transfer pemain.

“Mereka merekrut yang terbaik, tetapi yang mengatur tetap orang lain, termasuk soal pasar transfer. Milan memang tampaknya tidak ingin benar-benar berubah,” sindirnya.

Pernyataan Moggi muncul di tengah semakin besarnya kritik terhadap kepemimpinan Gerry Cardinale bersama RedBird Capital Partners di AC Milan.

Baca Juga:Vieri Peringatkan Inter: Trofi Coppa Italia Bisa Selamatkan Musim Buruk LazioEra Kegelapan AC Milan Bersama Cardinale: Revolusi Tanpa Maldini Hanya Hasilkan Satu Gelar Piala Super Italia

Sejak mengambil alih mayoritas saham klub dari Elliott Management pada 2022, Milan memang terus melakukan investasi besar di bursa transfer meski hasil di lapangan belum sesuai harapan.

Dalam empat musim terakhir, Rossoneri hanya mampu meraih satu trofi, yakni Piala Super Italia.

Ironisnya, kegagalan tersebut terjadi setelah Milan menghabiskan dana sangat besar untuk mendatangkan pemain baru.

Pada musim 2022/2023, Milan mengeluarkan €37,5 juta atau sekitar Rp637,5 miliar untuk merekrut Charles De Ketelaere dari Club Brugge. Mereka juga mendatangkan Malick Thiaw, Junior Messias, dan Alessandro Florenzi.

Musim berikutnya, revolusi besar dimulai setelah kepergian Paolo Maldini dan Frederic Massara.

Milan kembali belanja besar dengan mendatangkan Tijjani Reijnders, Yunus Musah, Samuel Chukwueze, Christian Pulisic, dan Ruben Loftus-Cheek dengan total nilai ratusan juta euro.

Revolusi belum berhenti. Pada musim 2024/2025, Milan kembali mendatangkan Santiago Giménez, Youssouf Fofana, Strahinja Pavlović, dan Álvaro Morata.

Baca Juga:Jelang Laga Final Coppa Italia Lawan Inter, Maurizio Sarri Jadi Incaran Napoli dan AtalantaBiasin: Bukan Uang Indonesia yang Buat Como Lolos ke Kompetisi Eropa, Tapi Ide

Memasuki musim 2025/2026, belanja besar terus berlanjut dengan kedatangan Christopher Nkunku senilai €37 juta atau sekitar Rp629 miliar, ditambah Ardon Jashari, Samuele Ricci, dan Koni De Winter.

Namun, besarnya investasi tersebut tidak menghasilkan kestabilan. Milan terus berganti pelatih, mulai dari Stefano Pioli, Paulo Fonseca, Sérgio Conceição, hingga kini Allegri.

Pergantian di level manajemen juga terus terjadi. Maldini disingkirkan, Massara dilepas, dan Antonio D’Ottavio hengkang sebelum bergabung dengan Como 1907.

Situasi itu membuat banyak pihak menilai Milan kehilangan arah dan identitas sebagai klub besar.

Kini, Rossoneri dianggap sedang memasuki salah satu fase paling rumit dalam sejarah modern klub. Banyak uang sudah dikeluarkan, tetapi prestasi besar belum juga kembali ke San Siro.

0 Komentar