Sebelum memasuki stadion, massa Curva Sud melakukan long march sambil membawa spanduk bertuliskan “Furlani Vattene” atau “Furlani Pergi”. Nyanyian bernada protes terus menggema di sekitar stadion.
Aksi tersebut berlanjut di dalam San Siro. Menjelang kick-off, Curva Sud membuat koreografi menggunakan cahaya ponsel dengan tulisan besar “GF Out”, merujuk pada inisial Giorgio Furlani.
Bukan hanya manajemen yang menjadi sasaran kritik. Para pemain Milan juga tidak luput dari kemarahan pendukung sendiri.
Baca Juga:AC Milan Terancam Gagal Lolos ke Liga Champions, Paolo Di Canio: Tim Tak Punya IdentitasEderson Selangkah Lagi Gabung Manchester United, Charles De Ketelaere Setuju Pindah ke Munchen
Curva Sud menilai performa skuad Rossoneri dalam beberapa laga terakhir jauh dari standar klub sebesar Milan.
Kapten tim Mike Maignan ikut disindir karena dianggap tidak menunjukkan tanggung jawab sebagai pemimpin tim.
Ultras kecewa karena para pemain tidak menghampiri suporter setelah kekalahan dari Sassuolo pada pekan sebelumnya.
Menurut mereka, pemain seharusnya berani menerima cemoohan saat tampil buruk, bukan hanya datang ke tribun ketika tim meraih kemenangan.
Situasi semakin panas ketika Atalanta mencetak gol demi gol ke gawang Milan.
Sorakan ejekan dan siulan keras terdengar dari tribun San Siro, terutama saat para pemain masuk ke ruang ganti pada akhir babak pertama.
Ketika Giacomo Raspadori mencetak gol ketiga Atalanta, sebagian ultras Curva Sud memutuskan meninggalkan stadion sebagai bentuk protes lanjutan terhadap kondisi klub saat ini.
Baca Juga:Petinggi AC Milan Tak Kompak Rekrut Lewandowski: Sebagian Setuju, Sebagian MenolakMassimo Moratti: Ibrahimovic Tidak Merasa Cocok dengan Messi
Di tengah suasana penuh kekecewaan itu, para pendukung Milan justru menyanyikan chant khusus untuk legenda klub, Paolo Maldini, yang dicopot dari jabatan direksi pada 2023 lalu.
Nyanyian untuk Maldini dianggap sebagai simbol kerinduan fans terhadap sosok yang dinilai lebih memahami identitas dan tradisi Milan dibanding manajemen saat ini.
Gelombang protes tersebut memperlihatkan bahwa krisis Milan kini bukan hanya soal hasil di lapangan, tetapi juga menyangkut hubungan yang semakin retak antara klub dan para suporternya.
