TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di banyak rumah, limbah dapur masih dipandang sebagai sisa yang tak berguna. Namun di Desa Bangbayang, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, anggapan itu perlahan berubah. Sampah organik mulai diolah menjadi kompos yang bernilai dan bermanfaat bagi warga.
Perubahan tersebut didorong melalui program Sikompos (Strategi Kompos Masyarakat) yang digagas mahasiswa PLP FKIP EDU Universitas Siliwangi bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Ciamis.
Program ini dirancang untuk mendorong kemandirian masyarakat dalam mengelola limbah dapur sekaligus menekan volume sampah rumah tangga.
Baca Juga:Bea Cukai Jabar Sita 2 Juta Batang Rokok Ilegal dalam Operasi Maung PadjajaranMAN 1 Tasikmalaya Berjaya di Olimpiade PPKN Ke-IX 2026 Tingkat Nasional
Implementasi program dilakukan melalui pelatihan dengan melibatkan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai penggerak di tingkat lingkungan pada Jumat (1/5/2026).
Kegiatan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga menekankan praktik langsung agar peserta memahami proses pengolahan secara utuh dan mampu menerapkannya secara mandiri.
Salah satu mahasiswa, Yulaiva, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis praktik dipilih sebagai strategi untuk menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan penerapan di lapangan. Menurutnya, pemahaman yang bersifat teoritis kerap tidak cukup untuk mendorong perubahan perilaku jika tidak diikuti pengalaman langsung.
“Kami berharap ibu-ibu PKK bisa menjadi penggerak dan menjadikan kegiatan ini sebagai rutinitas bersama,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memperkenalkan tiga metode pengolahan sampah organik, yakni Loseda (Lodong Sesa Dapur), Komsidap (Komposter Sisa Dapur), dan Komtuga (Komposter Tumpuk Galon).
Ketiga metode tersebut disusun dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan di lingkungan sekitar sehingga tidak menyulitkan masyarakat dalam penerapan sehari-hari.
Penekanan pada kesederhanaan metode menjadi bagian dari strategi untuk memastikan program dapat diadopsi secara luas oleh masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Pendekatan ini juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada alat atau teknologi tertentu.
Baca Juga:Empat Korban Penyiraman Air Keras Masuk Ruang Operasi RSUD dr Soekardjo Kota Tasik, dr Titie Jelaskan KondisiDiduga Jadi Korban Penyiraman Air Keras, Enam Orang Masuk RSUD dr Sokardjo Tasikmalaya
Mahasiswa lainnya, Tania, menilai bahwa keterlibatan langsung peserta menjadi kunci dalam membangun kepercayaan diri agar metode tersebut dapat diterapkan secara konsisten oleh masyarakat.
“Kader PKK tidak hanya diberi teori, tetapi juga praktik agar bisa menerapkan Sikompos secara mandiri,” katanya.
Dari sisi peserta, metode yang diperkenalkan dinilai cukup realistis untuk diterapkan dalam aktivitas rumah tangga sehari-hari. Selain tidak memerlukan peralatan khusus, proses pengolahannya juga mudah diikuti sehingga tidak menambah beban pekerjaan rumah tangga secara signifikan.
