Retribusi Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Naik, Pedagang Kian Dicekik Sepi Pembeli

kenaikan retribusi pedagang Pasar Cikurubuk
Kondisi kios pedagang di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya, Minggu (10/5/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kenaikan tarif retribusi di Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya memantik gelombang protes pedagang.

Di tengah kondisi pasar yang lesu dan pembeli makin jarang datang, kebijakan itu dinilai justru menambah beban para pelaku usaha kecil yang sudah megap-megap dihantam jualan online.

Pedagang beras di Blok B Pasar Cikurubuk, Arif Ridwan (46), mengaku kenaikan retribusi nyaris mencapai 100 persen.

Baca Juga:Kota Tasikmalaya Darurat Sampah! Minim Inovasi Pengelolaan, saatnya Beralih ke Teknologi PengolahanLiga Jabar U-14 dan U-19 Jadi Panggung Bibit Muda Kota Tasikmalaya

Jika sebelumnya dua kios miliknya hanya dikenai Rp30 ribu per hari, kini ia harus membayar Rp60 ribu setiap hari.

“Naiknya hampir 100 persen. Biasanya saya bayar Rp30 ribu per hari untuk dua kios. Sekarang jadi Rp60 ribu. Kondisi pembeli lagi sepi, harusnya pemerintah jangan saklek dong menaikannya,” ujarnya, Minggu (10/5/2026).

Menurut dia, kondisi Pasar Cikurubuk saat ini belum layak dibebani kenaikan retribusi tinggi.

Infrastruktur pasar yang rusak dan akses jalan yang buruk dinilai belum sebanding dengan pungutan baru yang diterapkan pemerintah.

“Sudah jalan jelek, ditambah retribusi naik. Kami makin terhimpit,” katanya.

Arif meminta Wali Kota Tasikmalaya bersama dinas terkait turun langsung meninjau kondisi pasar dan mencari solusi agar pedagang tidak terus tercekik kebijakan.

Hal serupa disampaikan pedagang pakaian Blok C, Hj Cucu Sucilawati (58). Ia mengaku tarif retribusi lebih dari 5 kiosnya melonjak hampir dua kali lipat.

Baca Juga:Jalan Mangkubumi Tasikmalaya Sempat Lumpuh Akibat Pohon Tumbang, Cuaca Ekstrem Mulai MengganasPayung Geulis Tasikmalaya Siap Kembali Mendunia, Kini Ditopang Para Influencer Nasional

“Pokokna dari Rp250 ribu jadi Rp500 ribu. Hampir 90 persen naikna,” keluhnya.

Menurutnya, kenaikan itu sangat tidak masuk akal jika melihat kondisi pasar yang makin sepi. Bahkan banyak kios pakaian mulai tutup karena tidak mampu bertahan.

“Enggak masuk akal. Sudah banyak yang tutup. Pasar teh siga rek dipareuman saeutik-saeutik,” katanya dengan nada kecewa.

Ia menilai pemerintah seperti menutup mata terhadap kondisi riil pedagang.

Di saat omzet turun drastis akibat gempuran toko online, pedagang tradisional justru dibebani pungutan lebih tinggi.

“Pedagang mah ayeuna lain keur untung gede, tapi keur perang bertahan hidup,” tegasnya.

Hj Cucu bahkan menyebut para pedagang berpotensi melakukan aksi lebih besar apabila aspirasi mereka tidak direspons pemerintah maupun DPRD Kota Tasikmalaya.

0 Komentar