TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Persoalan sampah di Kota Tasikmalaya kembali mencuat setelah terjadi penumpukan di sejumlah titik akibat aksi mogok kerja petugas pengangkutan beberapa hari lalu.
Kondisi itu memantik sorotan dari eksekutif hingga legislatif, yang menilai pengelolaan sampah kota masih berjalan tertatih di tengah produksi sampah yang terus menumpuk.
Plh Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra mengakui sempat terjadi gangguan layanan pengangkutan sampah akibat aksi mogok kerja selama dua hingga tiga hari.
Dampaknya, sampah menumpuk di beberapa lokasi sebelum akhirnya kembali normal.
Baca Juga:Liga Jabar U-14 dan U-19 Jadi Panggung Bibit Muda Kota TasikmalayaJalan Mangkubumi Tasikmalaya Sempat Lumpuh Akibat Pohon Tumbang, Cuaca Ekstrem Mulai Mengganas
“Informasi sementara memang sempat ada kemogokan dua atau tiga hari yang menyebabkan penumpukan sampah. Tapi di hari yang sama sudah kembali berjalan,” ujar Diky, Minggu (10/5/2026).
Menurut dia, persoalan sampah tidak bisa terus diselesaikan dengan pola lama.
Apalagi, saat ini pemerintah kota juga tengah menindaklanjuti laporan BPK terkait pengelolaan sampah yang dinilai perlu pembenahan, termasuk menuju sistem digitalisasi.
Diky mengatakan, Pemkot Tasikmalaya harus mulai membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, provinsi hingga BUMN untuk mendukung teknologi pengolahan sampah.
“Kalau hanya mengeluh tiap hari, itu tidak akan jadi solusi. Yang diperlukan sekarang tim yang aktif jemput bola ke pusat dan provinsi, jangan gengsi meminta bantuan,” katanya.
Ia juga menilai pengelolaan sampah harus menjadi perhatian serius seluruh unsur pemerintah daerah.
Sebab, sejumlah proses administrasi bantuan dan penganggaran masih terbentur kewenangan tanda tangan pejabat definitif.
Baca Juga:Payung Geulis Tasikmalaya Siap Kembali Mendunia, Kini Ditopang Para Influencer NasionalKetika Anak-Anak Diajak Bahagia Lewat Seni Lukis saat Bulan Menggambar di GCC Tasikmalaya
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H Wahid menilai masalah sampah di Kota Tasikmalaya sudah lama diperingatkan berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga pemerhati lingkungan.
Namun hingga kini, persoalan klasik seperti kekurangan armada dan minim inovasi belum juga tuntas.
“Produksi sampah terus naik, tapi kemampuan angkut masih segitu-gitu saja. Kalau hanya dua rit sehari sementara sampah menumpuk, jelas tidak akan selesai,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, persoalan di lapangan juga menyangkut kesejahteraan pekerja pengangkut sampah yang sebagian belum memiliki kejelasan status kerja.
