TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Payung geulis yang dulu sempat menembus pasar Eropa kini kembali didorong naik ke panggung promosi digital.
Pemerintah Kota Tasikmalaya bersama Dekranasda mencoba “membangunkan” lagi ikon budaya khas Tasikmalaya itu lewat kunjungan para influencer nasional ke sentra payung geulis di Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Sabtu (9/5/2026).
Wakil Ketua Dekranasda Kota Tasikmalaya, Rani Permayani Diky Chandra bersama Kepala KUMKM Perindag Kota Tasikmalaya, Sofyan Zaenal Muttaqin mendampingi para influencer yang datang dari berbagai daerah.
Baca Juga:Ketika Anak-Anak Diajak Bahagia Lewat Seni Lukis saat Bulan Menggambar di GCC TasikmalayaMonumen Koperasi Tasik Jangan Jadi Pajangan Sejarah, Dorongan Cagar Budaya Sudah Masuk Kementerian
Mereka diajak melihat langsung proses pembuatan payung geulis yang selama ini lebih sering jadi pajangan nostalgia ketimbang primadona ekonomi kreatif.
Di lokasi, para tamu mendapat pemaparan sejarah payung geulis dari Sandi Mulyana, keturunan salah seorang pendiri Payung Geulis Karya Utama di Panyingkiran.
Sandi menjelaskan, payung geulis mulai diproduksi sekitar tahun 1923 hingga 1930-an oleh tokoh lokal H. Muhyi.
Awalnya, payung tersebut digunakan sebagai pelindung panas dan hujan dengan bahan kertas atau dikenal sebagai payung siem.
Namun seiring perkembangan zaman, payung geulis berubah menjadi produk kerajinan bernilai seni tinggi, dekorasi hingga cinderamata khas Tasikmalaya.
“Bahkan sempat menembus pasar Eropa sekitar tahun 1968 sampai 1995. Setelah itu mulai melandai akibat krisis moneter tahun 1996,” ujar Sandi.
Meski sempat redup diterpa perubahan zaman dan serbuan produk modern, payung geulis kini telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak tahun 2022.
Baca Juga:Biaya Pengobatan Korban Air Keras di Manonjaya Tasikmalaya Capai Rp30 Juta643 Wisudawan Tahfizh Al Muttaqin, Generasi Qurani Mulai Menjawab Tantangan Zaman
Pengakuan itu menjadi pengingat bahwa budaya lokal tak cukup hanya dipajang dalam seremoni, tetapi juga harus hidup di pasar dan ruang publik.
Wakil Ketua Dekranasda Kota Tasikmalaya, Rani Permayani berharap kehadiran para influencer mampu membantu promosi payung geulis agar kembali dikenal luas.
“Diharapkan dengan kedatangan para influencer ini dapat membantu payung geulis bisa dipromosikan sehingga payung geulis kembali mendunia,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Rani bersama Duta Dekranasda Jawa Barat Salzha Aulia Putri juga ikut melukis payung geulis dengan bimbingan pelukis senior Mak Hasanah.
Aktivitas itu menjadi simbol bahwa warisan budaya tak bisa hanya disimpan dalam bingkai sejarah, tetapi harus terus disentuh generasi baru agar tidak kalah oleh tren instan media sosial.
