TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kawasan Monumen Koperasi di Kota Tasikmalaya didorong naik kelas menjadi cagar budaya nasional.
Di tengah zaman ketika kerja sama makin sering kalah oleh ego kelompok, koperasi justru kembali diketuk sebagai pengingat bahwa ekonomi rakyat tak bisa dibangun sendirian.
Dorongan itu mengemuka dalam RAT Tahun Buku 2025 Pengurus Pusat Koperasi Kota Tasikmalaya (PKKT) di Aula PKKT Jalan Dr Moch Hatta Kota Tasikmalaya, Sabtu (9/5/2026).
Baca Juga:Biaya Pengobatan Korban Air Keras di Manonjaya Tasikmalaya Capai Rp30 Juta643 Wisudawan Tahfizh Al Muttaqin, Generasi Qurani Mulai Menjawab Tantangan Zaman
Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah (Dekopinda) Kota Tasikmalaya Agus Rudianto menyebut kawasan Monumen Koperasi bukan sekadar bangunan tua yang dipenuhi nostalgia.
Menurutnya, kawasan tersebut merupakan saksi lahirnya semangat gotong royong dan ekonomi kerakyatan di Tasikmalaya.
“Yang dijaga bukan hanya bangunannya, tapi nilai koperasinya. Ada asas kekeluargaan, demokrasi ekonomi dan keadilan sosial di dalamnya,” ujar Agus.
Dia berharap penetapan status cagar budaya tidak berhenti sebagai simbol administratif semata.
Kawasan itu didorong menjadi destinasi eduwisata koperasi yang hidup, lengkap dengan galeri digital, ruang interaktif hingga etalase produk UMKM dan koperasi lokal.
Menurut Agus, monumen tersebut juga harus menjadi episentrum kebangkitan koperasi modern berbasis digital yang tetap berpijak pada kearifan lokal Tasikmalaya.
“Jangan hanya jadi prasasti masa lalu. Monumen ini harus jadi motor ekonomi rakyat masa depan,” katanya.
Baca Juga:Semua Korban Air Keras di Manonjaya Tasikmalaya Dipulangkan, Trauma dan Luka Belum Sepenuhnya SembuhPupuk Kujang Perkuat Energi Baru Demi Stabilitas Produksi, Pasokan di Jabar Dijaga Tetap Aman
Plh Wali Kota Tasikmalaya, Diky Candra menegaskan koperasi memiliki posisi penting sebagai model bisnis komunal di tengah masyarakat.
Dia menilai saat ini tantangan terbesar bukan hanya ekonomi, tetapi juga pudarnya budaya bekerja sama.
“Sekarang orang makin sulit berkomunikasi dan bekerja sama. Koperasi mengingatkan bahwa tidak ada yang bisa dikerjakan sendirian,” tutur Diky.
Dia mengibaratkan koperasi seperti sapu lidi. Satu batang tak banyak manfaat, tetapi ketika disatukan menjadi kuat dan berguna bagi banyak orang. Satir sederhana yang terasa menohok di tengah zaman ketika kebersamaan sering kalah oleh kepentingan pribadi.
Diky juga mengungkapkan proses penetapan Monumen Koperasi sebagai cagar budaya nasional kini sudah masuk pembahasan di kementerian.
