Ketika Anak-Anak Diajak Bahagia Lewat Seni Lukis saat Bulan Menggambar di GCC Tasikmalaya

pameran lukisan anak di GCC Tasikmalaya
Seorang anak melihat lukisan wajah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam Pameran “Melukis itu Happy” di GCC Tasikmalaya, Sabtu (9/5/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Gedung Creative Center (GCC) Kota Tasikmalaya berubah jadi ruang penuh warna dan imajinasi.

Sebanyak 64 karya lukis hasil tangan 40 peserta dipamerkan dalam kegiatan Bulan Menggambar bertajuk “Melukis itu Happy” bersama Sanggar Brahmastra Art, Sabtu (9/5/2026) hingga Senin (11/5/2026).

Pesertanya tak hanya anak-anak sekolah. Ada balita usia tiga tahun, remaja, mahasiswa hingga peserta dewasa yang ikut menumpahkan rasa lewat kanvas.

Baca Juga:Monumen Koperasi Tasik Jangan Jadi Pajangan Sejarah, Dorongan Cagar Budaya Sudah Masuk KementerianBiaya Pengobatan Korban Air Keras di Manonjaya Tasikmalaya Capai Rp30 Juta

Di tengah era anak-anak sibuk menggulir layar gawai, ruang menggambar justru menjadi “oase kecil” agar rasa dan kreativitas tidak ikut mengering.

Pimpinan Sanggar Brahmastra Art, Herman PG mengatakan, pameran karya anak rutin digelar setiap tahun. Bahkan dalam satu tahun bisa dua kali pameran.

“Karena Mei itu Bulan Menggambar Nasional, jadi kami manfaatkan untuk event pameran anak-anak. Kebetulan karya mereka juga sudah banyak dan layak dikenalkan kepada masyarakat,” ujarnya kepada Radar.

Tak hanya pameran, kegiatan juga diisi lomba mewarnai untuk anak-anak usia dini.

Herman menyebut konsepnya dibuat bebas agar anak menikmati proses menggambar tanpa tekanan aturan yang terlalu kaku.

“Mereka dibebaskan sampai tiga jam. Mau ditambah apa saja silakan. Yang penting happy dalam menggambar,” katanya.

Menariknya, Sanggar Brahmastra Art juga menggandeng pelaku UMKM anyaman caping.

Media caping dijadikan kanvas kreatif untuk dilukis anak-anak. Upaya itu bukan sekadar seni, tetapi juga cara sederhana menghidupkan roda ekonomi perajin lokal yang kerap kalah gaduh dibanding produk pabrikan.

Baca Juga:643 Wisudawan Tahfizh Al Muttaqin, Generasi Qurani Mulai Menjawab Tantangan ZamanSemua Korban Air Keras di Manonjaya Tasikmalaya Dipulangkan, Trauma dan Luka Belum Sepenuhnya Sembuh

“Kami ingin anyaman para pengrajin bisa terbeli, lalu anak-anak berkreasi di atasnya. Bahkan rencananya karya itu akan dipamerkan lagi bulan Juli dan mudah-mudahan bisa terjual,” terang Herman.

Maestro lukis Tasikmalaya, Hj Rukmini Yusuf Affandi menilai pameran seperti ini penting untuk membangun rasa percaya diri anak.

Menurutnya, ketika karya dipajang di ruang publik, anak merasa dihargai atas proses kreatifnya.

“Ini jadi kebanggaan bagi anak dan orang tuanya. Terlepas bagus atau tidak, karena seni itu relatif. Setiap anak punya gaya dan cara sendiri,” tuturnya.

0 Komentar