RADARTASIK.ID— Penyelenggaraan ibadah haji tak lagi berfokus pada sukses ritual semata, tetapi juga diarahkan menjadi ekosistem ekonomi yang memperluas pasar produk UMKM Indonesia di Tanah Suci.
Penyelenggaraan ibadah haji 2026 diarahkan memasuki babak baru.
Pemerintah Indonesia tidak hanya membidik keberhasilan pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga menargetkan terciptanya ekosistem ekonomi haji yang mampu memberi nilai tambah nyata bagi perekonomian nasional, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah RI, Prof. Dr. Jaenal Effendi, menegaskan bahwa visi besar penyelenggaraan haji ke depan adalah membangun konsep Tri Sukses Haji.
Baca Juga:Muktamar NU 2026 Resmi Digelar Agustus, PBNU Matangkan Agenda Besar Organisasi, Ini Penjelasan Gus IpulEra Baru Timnas Indonesia di Tangan John Herdman, Misi Akhiri Kutukan Piala AFF 2026
Tri Sukses Haji yaitu keberhasilan layanan ibadah, penguatan tata kelola, serta terciptanya manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.
“Kami dari Ditjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji menyampaikan bahwa alhamdulillah di Indonesia kita juga sudah punya platform oleh-oleh haji yang ini kita lagi matangkan sehingga nanti harapannya bisa ada nilai manfaat ekonomi,” ujar Prof. Jaenal.
Dalam agenda di sela kegiatan di Kantor Daker Madinah, Kamis malam (7/5), Jaenal juga menyampaikan apresiasi terhadap dedikasi para petugas haji Indonesia yang dinilainya menunjukkan soliditas, kerja kolektif, dan totalitas tinggi dalam melayani jemaah di Tanah Suci.
Menurutnya, kinerja para petugas menjadi fondasi penting dalam mewujudkan penyelenggaraan haji yang semakin berkualitas dari tahun ke tahun.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah mematangkan sebuah platform oleh-oleh haji berbasis ekosistem nasional.
Platform tersebut dirancang untuk membuka jalur distribusi produk Indonesia agar mampu masuk lebih luas ke pasar konsumsi jemaah, sekaligus menciptakan efek ekonomi yang lebih besar bagi pelaku UMKM di Tanah Air.
Arah kebijakan tersebut, lanjut Jaenal, sejalan dengan pesan Presiden dan Menteri Haji dan Umrah yang menginginkan belanja besar dalam penyelenggaraan haji tidak berhenti sebagai aktivitas konsumtif semata, melainkan menjadi instrumen penggerak ekonomi nasional yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat luas.
Baca Juga:Purbaya Yakin Laju Pertumbuhan Bisa 6 Persen pada 2026, Setelah Kini Ekonomi Indonesia Tembus 5,61 PersenRevitalisasi 71 Ribu Sekolah Dikebut pada 2026, Anggaran Rp14 Triliun Disiapkan PemerintahÂ
Langkah konkret menuju visi itu mulai terlihat. Produk bumbu asal Indonesia kini telah menembus pasar Arab Saudi dan digunakan dalam sajian konsumsi bagi jemaah.
