RADARTASIK.ID— Selama puluhan tahun, Tim Nasional Sepak Bola Indonesia selalu berada di ambang kejayaan Asia Tenggara.
Namun setiap kali kesempatan datang di ajang AFF Championship, skuad Garuda justru harus menyaksikan negara lain berpesta mengangkat trofi juara.
Enam kali melaju ke final, enam kali pula Indonesia gagal menghapus luka panjang yang terus membekas di benak suporter.
Baca Juga:Purbaya Yakin Laju Pertumbuhan Bisa 6 Persen pada 2026, Setelah Kini Ekonomi Indonesia Tembus 5,61 PersenRevitalisasi 71 Ribu Sekolah Dikebut pada 2026, Anggaran Rp14 Triliun Disiapkan Pemerintah
Turnamen yang seharusnya menjadi panggung supremasi sepak bola ASEAN justru berubah menjadi simbol penantian tanpa akhir bagi Merah Putih.
Kini, harapan baru mulai tumbuh setelah hadirnya pelatih asal Kanada, John Herdman, yang dipercaya memimpin revolusi baru Timnas Indonesia.
Herdman datang bukan sekadar membawa metode latihan modern atau pengalaman internasional.
Sosok yang sukses membawa Canada men’s national soccer team kembali tampil di FIFA World Cup setelah penantian 36 tahun itu kini memikul misi besar mematahkan kutukan Piala AFF yang selama ini menghantui Indonesia.
Atmosfer baru perlahan mulai terasa di tubuh skuad Garuda.
Strategi besar dibangun, struktur tim diperkuat, dan perhatian Asia Tenggara kini tertuju pada ambisi Indonesia merebut trofi AFF yang belum pernah berhasil dibawa pulang.
Era Herdman disebut menjadi titik perubahan penting bagi sepak bola nasional.
Indonesia kini mulai membangun kekuatan dengan kombinasi pemain diaspora, talenta lokal terbaik, hingga proyek naturalisasi yang semakin terukur.
Baca Juga:Batal di Jakarta, Persija Kecewa Laga Kontra Persib Dipindah ke Samarinda, Ini Perasaan Mantan Ketum JakmaniaSudah Diputuskan, PERSIJA vs PERSIB Dipindah ke Samarinda, ‘Final’ Penentu Gelar Digelar di Markas Borneo FC
Bayangan mengenai skuad dengan pengalaman kompetisi Eropa dan liga elite dunia berseragam Merah Putih membuat optimisme publik terus meningkat.
Pertanyaan besar pun mulai muncul: apakah kutukan panjang Indonesia akhirnya akan berakhir di Piala AFF 2026?
Bagi Herdman, target tersebut bukan sekadar mimpi. Ia memahami bahwa turnamen AFF memiliki nilai emosional luar biasa bagi publik sepak bola Indonesia.
Karena itu, fokus utamanya bukan hanya memenangkan pertandingan, melainkan membangun mental juara yang selama ini dinilai menjadi kelemahan terbesar Garuda di laga-laga penentuan.
Sejarah kegagalan di final tidak dianggap sebagai tekanan, melainkan peluang untuk menciptakan kisah baru sepak bola Indonesia.
Herdman diyakini ingin menghadirkan tim yang bukan hanya atraktif, tetapi juga mampu tampil dingin dan efektif ketika menghadapi laga besar.
