Balita Kota Tasikmalaya Meninggal Dunia Diduga Campak, Status Masih Ditelusuri

balita meninggal diduga campak di Kota Tasikmalaya
Ilustrasi balita meninggal dunia diduga campak. ChatGPT
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kasus kematian balita berusia 5 bulan yang diduga terjangkit campak di Kota Tasikmalaya, Rabu (29/4/2026) memantik perhatian.

Namun, kepastian penyebab kematian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, di tengah koordinasi yang belum sepenuhnya sinkron antarinstansi.

Balita berusia 5 bulan asal Kota Tasikmalaya itu meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di RSUD dr Soekardjo.

Baca Juga:Uji Coba CFD ASN Kota Tasikmalaya Menuju Rabu Biru Terus Digelorakan, Wali Kota Kasih ContohBNN Kota Tasikmalaya Gandeng Pramuka, Deteksi Dini Narkoba Diperkuat

Dugaan awal mengarah pada penyakit campak, meski hingga kini belum ada konfirmasi medis final.

Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya, Dr. dr. Hj. Rr Titie Purwaningsari, MMRS., FISQUA, membenarkan adanya kasus tersebut.

Namun ia menegaskan bahwa status penyakit masih sebatas dugaan.

“Belum terkonfirmasi, tapi yang terduga iya. Terkait itu campak atau bukan harus dilakukan pemeriksaan laboratorium dulu,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (30/4/2026).

Menurutnya, pasien telah mendapatkan penanganan medis sesuai standar selama dirawat di rumah sakit.

Pihak RSUD juga masih menunggu hasil lanjutan dari pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis.

“Nanti saya konfirmasi dulu apakah itu sudah dikirimkan ke laboratorium,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr. H. Asep Hendra Hendriana, M.M, mengaku belum menerima laporan resmi terkait kasus tersebut.

“Saya belum dapat konfirmasi terkait dengan ini,” singkatnya.

Secara medis, campak bukan penyakit ringan.

Baca Juga:Keluhan Layanan RS Swasta Mencuat, DPRD Kota Tasikmalaya Soroti Dugaan Calo dan Respons LambatAncaman Penutupan Prodi Kependidikan, kata Ketua PGM: Kebijakan yang Tergesa

Virus ini dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuka pintu bagi komplikasi serius seperti pneumonia hingga ensefalitis, yang berpotensi berujung fatal—terutama pada bayi dan kelompok rentan.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan terhadap penyakit menular lama tak boleh ikut “pensiun dini”.

Di tengah isu kesehatan masyarakat, validasi data dan kecepatan respons menjadi kunci, agar penanganan tidak kalah cepat dari penyebaran virus. (rezza rizaldi)

0 Komentar