RADARTASIK.ID— Sorotan terhadap sistem keselamatan perkeretaapian nasional kian menguat menyusul insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur.
Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto mendesak adanya pertanggungjawaban di level tertinggi manajemen PT Kereta Api Indonesia atau PT KAI (Persero), termasuk meminta Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mundur dari jabatannya.
Firnando menilai insiden tersebut bukan sekadar kecelakaan operasional biasa, melainkan sinyal kuat adanya persoalan mendasar dalam tata kelola keselamatan dan manajemen operasional perusahaan.
Baca Juga:8 Perjalanan Kereta dari Jakarta Dibatalkan, PT KAI Minta Maaf karena Masih Normalisasi OperasionalPresiden Prabowo Percepat Penanganan Sampah Nasional, Dorong Daerah Kembangkan TPST Model Banyumas
“Ada pertanyaan mendasar mengenai efektivitas pengawasan, kesiapan sistem keselamatan, serta standar operasional yang diterapkan. Ini adalah tanggung jawab manajemen puncak, kami mendesak dirut KAI untuk mengudurkan diri” kata Firnando dalam keterangannya, Rabu, 29 April 2026 dikutip dari disway.id.
Menurut dia, tabrakan antarkereta di jalur yang sama seharusnya dapat dicegah apabila sistem pengawasan, standar operasional, dan perangkat keselamatan berjalan efektif.
Politisi Partai Golkar itu mempertanyakan sejauh mana kesiapan sistem keselamatan yang dimiliki KAI, termasuk efektivitas pengawasan operasional di lapangan.
Dalam pandangannya, tanggung jawab atas insiden besar semacam ini tidak bisa dilepaskan dari peran manajemen puncak, sehingga evaluasi kepemimpinan dinilai menjadi langkah yang patut dipertimbangkan.
Firnando juga menyoroti kegagalan sistem KRL yang dinilai tidak mampu mendeteksi keberadaan kereta yang sedang berhenti di lintasan yang sama.
Padahal, dalam sistem transportasi rel modern, teknologi seperti automatic signaling, train protection system, hingga mekanisme fail-safe seharusnya dapat berfungsi sebagai lapisan pengaman untuk mencegah tabrakan, termasuk ketika terjadi kesalahan manusia.
Menurut dia, tidak bekerjanya sistem antisipasi tersebut memperlihatkan adanya celah serius dalam integrasi teknologi keselamatan dengan pengawasan operasional.
Baca Juga:UPDATE Korban Tewas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Bertambah Menjadi 15 OrangNama-Nama Korban Kecelakaan Kereta Api di Bekasi Timur, KAI Soroti Pentingnya Kewaspadaan di Perlintasan
Kondisi ini, kata Firnando, menjadi alarm bahwa modernisasi sistem belum sepenuhnya berjalan efektif di sektor transportasi kereta.
Lebih jauh, ia menilai kejadian di Bekasi Timur mencerminkan lemahnya implementasi safety management yang semestinya menjadi fondasi utama dalam layanan transportasi publik.
Ia menegaskan, keselamatan tidak boleh berhenti pada pemenuhan aspek administratif, melainkan harus tertanam dalam seluruh proses operasional—mulai dari perencanaan perjalanan, pengaturan sinyal, hingga pengendalian lalu lintas kereta secara real time.
