TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah riuh bisnis kopi dan gaya hidup, tiga kaos putih yang diluncurkan di Siloka Coffee Lab, Jalan Ir. Juanda, Kota Tasikmalaya, Sabtu (25/4/2026), justru mencuri perhatian dengan cara yang tak biasa.
Bukan karena tren atau label mahal, melainkan karena cerita di baliknya: karya anak-anak yang mulai menembus industri kreatif—pelan, tapi pasti.
Kolaborasi antara Siloka Coffee Lab dan Brave Academy ini menghadirkan tiga desain dari peserta didik lintas usia: anak-anak, pra-remaja, hingga remaja. Mereka adalah Naura Zahra Zafreena (kelas 4 SD Attaufiq), Sahda Aisyah Farras (kelas 9 SMP Baiturrahman), dan Zahsy Qanita Salvina (kelas 4 SD SLB Tamansari).
Baca Juga:Tanpa Medsos, Jemaah Mengalir: Strategi Sunyi H Asep Yana Jadi Agen Travel Umrah di Tasik Berbuah XpanderKopi Biji Kota Tasikmalaya Resmi Dibuka, Ledakan Kafe Picu Optimisme Ekonomi Kreatif
Berbeda latar, satu panggung: ruang ekspresi yang kini tak lagi eksklusif milik orang dewasa.
Brave Academy, sebagai lembaga pendidikan non-formal, tampaknya tak ingin berhenti di ruang kelas.
Mereka “memaksa” karya anak didiknya keluar, berhadapan langsung dengan publik—dan, tentu saja, pasar. Sebuah langkah kecil yang diam-diam menantang cara lama melihat potensi anak.
Naura, salah satu kreator termuda, mengaku sempat membuat beberapa alternatif desain. Namun, satu karakter yang dianggap paling “dirinya” akhirnya dipilih.
“Sebenarnya aku bikin desain lain juga, tapi yang ini lebih kelihatan karakter aslinya,” ujarnya polos, sembari menyebut keluarganya jadi pihak pertama yang ia beri kabar.
Sementara itu, Sahda memilih jalur yang lebih personal. Kegemarannya terhadap matcha disulap menjadi ide utama desain. Ia bahkan memasukkan dirinya sendiri sebagai karakter dalam ilustrasi.
“Aku suka banget sama matcha, jadi aku buat desain ini. Karakternya itu aku sendiri,” tuturnya, ringan namun penuh makna.
Baca Juga:Halal Bihalal Kwarcab Pramuka Kota Tasikmalaya Teguhkan Komitmen Kebersamaan dan PengabdianKorsleting Listrik Bakar Empat Rumah di Yudanegara Kota Tasikmalaya
Cerita paling menggetarkan datang dari Zahsy Qanita Salvina, atau Vina. Sebagai anak tuli dari SLB Tamansari, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Dengan arahan awal dari sang ibu, Susanti (45), Vina mengeksekusi desain secara mandiri—menggambarkan keluarganya sendiri, tema yang kerap muncul dalam karyanya.
“Ini murni karya Vina. Saya hanya memberi instruksi awal,” ujar Susanti, dengan suara yang tak sepenuhnya berhasil menyembunyikan haru.
