Air mata sempat menetes. Bukan dramatisasi, tapi refleksi sederhana: bahwa karya anak, sekecil apa pun, bisa menjadi peristiwa besar bagi orang tua.
Kolaborasi ini jelas lebih dari sekadar peluncuran merchandise. Ia menjadi pengingat bahwa industri kreatif tak melulu soal pasar dan profit, tapi juga tentang membuka pintu—terutama bagi mereka yang sering dianggap “belum waktunya”.
Di kota yang kadang masih sibuk dengan seremoni, langkah kecil seperti ini justru terasa lebih jujur: memberi ruang, bukan sekadar panggung. (ayu sabrina barokah)
