Pernyataan Erwan itu kini terasa seperti gema—terdengar, tapi tak berwujud alias menguap jadi asap.
Situasi ini menempatkan Stadion Wiradadaha dalam posisi yang janggal: penting, tapi tak diprioritaskan. Dibutuhkan, tapi tak segera diperbaiki.
Di tengah kebutuhan akan fasilitas olahraga yang layak, stadion ini justru menjadi simbol klasik—antara rencana dan realisasi yang tak pernah benar-benar bertemu. (rezza rizaldi)
