“Ada yang simpan di brankas juga tetap hilang. CCTV juga enggak menunjukkan apa-apa,” tambahnya.
Spanduk akhirnya dipilih sebagai bentuk “peringatan terbuka”. Sebuah langkah yang setengah serius, setengah sindiran—di tengah kebuntuan logika.
Menariknya, sejak spanduk terpasang, laporan kehilangan disebut mulai mereda. Entah karena efek psikologis, sugesti kolektif, atau memang “pelaku” merasa terusik.
Baca Juga:Nyaris Beradu Wajah!Debat Sengit! Muscab PPP Kota Tasikmalaya Dibawa ke DPW, Formatur Ikut Mandek
Di tengah modernitas Kota Tasikmalaya, kisah ini menjadi ironi kecil: ketika uang hilang tanpa jejak, rasionalitas pun ikut diuji.
Antara logika dan legenda, warga memilih satu cara sederhana—memasang spanduk, berharap yang tak terlihat bisa membaca. (rezza rizaldi)
