Dalam hal gagasan, Riko sering disebut progresif. Banyak ide baru. Banyak keberanian. Sementara Tedi dikenal lebih tenang. Lebih kalem. Tidak banyak bicara.
Tapi dalam politik, diam tidak selalu berarti lemah. Kadang diam adalah cara membaca arah angin.
Pada akhirnya, semua hitung-hitungan di tingkat kota tetap akan bertemu pada satu titik: pusat. Ada satu tangan yang akan sangat menentukan. Tangan Muhammad Mardiono.
Baca Juga:Kehilangan Rasa Malu!Wabup yang Jarang Diam!
Sebagai Ketua Umum PPP, ia tidak hanya melihat siapa yang paling kuat hari ini. Ia harus melihat siapa yang paling mampu menjaga masa depan partai.
Karena pertanyaan sesungguhnya bukan sekadar siapa yang menang. Tapi siapa yang mampu mengembalikan kejayaan PPP seperti sepuluh tahun lalu. Saat kader-kadernya duduk di kursi penting. Di legislatif. Di eksekutif.
Besok, di Hotel Mandalawangi, para kader akan berkumpul. Mereka akan berdiskusi. Berdebat. Berhitung. Dengan tensi yang pasti tidak rendah. Dengan strategi yang pasti sudah disiapkan jauh-jauh hari.
Dengan harapan yang mungkin terlalu besar untuk ditanggung satu keputusan. Karena yang dipilih besok bukan hanya ketua. Yang dipilih adalah arah.
Apakah PPP Kota Tasikmalaya akan kembali menjadi pemenang seperti dulu. Atau tetap menjadi pemain lama—yang masih mencari momentum baru. Dan satu pertanyaan terakhir akan menggantung di udara hingga palu diketuk:Siapa yang benar-benar akan menjadi pemenang?
Apakah pasangan Enjang–Riko.
Ataukah Hilman–Tedi.
Atau justru pemenang sesungguhnya adalah DPP PPP itu sendiri—yang berhasil menjaga partai tetap utuh, meski di tengah gelombang yang tidak pernah benar-benar tenang. (red)
