RADARTASIK.ID – Situasi yang dihadapi AC Milan berubah drastis hanya dalam hitungan minggu.
Dari tim yang semula terlihat menjanjikan menuju musim sukses, kini Rossoneri justru berada di ambang krisis yang bisa berdampak besar terhadap masa depan klub, baik dari sisi olahraga maupun finansial.
Sekitar sebulan lalu, kemenangan dalam derby melawan Inter Milan pada 8 Maret membuat Milan hanya terpaut tujuh poin dari puncak klasemen.
Baca Juga:Mengapa Pemain Real Madrid Tak Terima Kalah dari Bayern Munchen?Siapa Hector Fort, Bek Sayap Lulusan La Masia yang Buat Inter Rela Menukarnya dengan Bastoni
Posisi di empat besar saat itu tampak aman. Namun, rentetan hasil buruk, termasuk kekalahan dari Udinese di San Siro, membuat situasi berubah cepat.
Pelatih Massimiliano Allegri bahkan telah memperingatkan timnya agar tidak kehilangan fokus dalam konferensi pers pra-pertandingan.
Namun, pesan tersebut gagal diterjemahkan di lapangan. Kini, Milan harus berjuang keras di sisa musim untuk mengamankan tiket Liga Champions.
Allegri memperkirakan bahwa batas aman untuk lolos ke Liga Champions berada di angka 73 poin.
Artinya, Milan masih membutuhkan tambahan sekitar 10 poin dari posisi mereka saat ini.
Dalam enam laga tersisa, finis di posisi tiga besar menjadi target realistis untuk menghindari dampak besar di musim panas nanti.
Krisis ini langsung berdampak pada kebijakan internal klub. Sejumlah pembicaraan perpanjangan kontrak kini ditangguhkan.
Baca Juga:Juventus Perpanjang Kontrak Manuel Locatelli: Gaji Naik Rp17 MiliarAC Milan Batasi Wewenang Ibrahimovic: Fokus Pada Peran Strategis di Balik Layar
Nama-nama penting seperti Rafael Leao, Fikayo Tomori, Ruben Loftus-Cheek, hingga Strahinja Pavlovic harus menunggu kepastian kompetisi yang akan diikuti Milan musim depan.
Jika gagal lolos ke Liga Champions, konsekuensinya tidak hanya soal prestise. Para pemain tersebut berpotensi tidak mendapatkan kenaikan gaji, bahkan bisa masuk daftar jual untuk menyeimbangkan keuangan klub.
Situasi ini tentu menjadi ancaman serius bagi stabilitas skuad. Pemain bintang seperti Christian Pulisic dan Leao bisa menjadi korban jika klub membutuhkan pemasukan tambahan.
Seperti diketahui, tampil di Liga Champions memiliki dampak finansial yang sangat besar. Total hadiah kompetisi ini mendekati €2,5 miliar atau sekitar Rp42,5 triliun.
Setiap klub yang lolos ke fase grup langsung mendapatkan €18,62 juta (sekitar Rp316,5 miliar).
Pemasukan ini bahkan belum termasuk bonus performa: kemenangan bernilai €2,1 juta (sekitar Rp35,7 miliar), sementara hasil imbang bernilai €700.000 (sekitar Rp11,9 miliar).
