RADARTASIK.ID – Kylian Mbappe kembali mencatatkan namanya dalam buku sejarah Liga Champions.
Namun ironisnya, di balik pencapaian individu yang gemilang, musim ini justru berakhir dengan kekecewaan besar bagi Real Madrid.Dalam laga melawan Bayern Munich, Mbappe tidak hanya mencetak gol penting, tetapi juga menorehkan rekor baru.
Gol tersebut membuatnya mencapai 70 gol di kompetisi klub paling bergengsi di Eropa hanya dalam 97 pertandingan.
Baca Juga:Mimpi Buruk AC Milan Jika Tak Lolos ke Liga Champions: Potong Gaji dan Jual Pemain BintangFabregas Masuk Daftar Kandidat Pengganti Guardiola di Manchester City
Catatan ini menjadikannya sebagai pemain termuda dalam sejarah yang mencapai angka tersebut.
Pada usia 27 tahun 116 hari, Mbappe berhasil melampaui rekor yang sebelumnya dipegang oleh Lionel Messi, yang mencapai 70 gol di usia 27 tahun 134 hari.
Selain itu, Mbappe juga mencatatkan 10 gol tandang dalam satu musim Liga Champions—sebuah rekor lain yang menegaskan ketajamannya di level tertinggi.
Namun, semua pencapaian individu itu terasa hampa. Real Madrid kembali gagal melangkah jauh di Liga Champions dan harus tersingkir, memperpanjang puasa trofi Mbappe di kompetisi ini.
Media Spanyol Mundo Deportivo bahkan menyebut musim Madrid sebagai “tidak ada apa-apanya”.
Kritik tersebut menyoroti fakta bahwa klub raksasa Spanyol itu kembali mengakhiri musim tanpa gelar besar, meskipun diperkuat oleh salah satu pemain terbaik dunia.
Ketika didatangkan dari Paris Saint-Germain pada musim panas 2024 dengan nilai transfer fantastis, Mbappe membawa ekspektasi besar.
Baca Juga:Mengapa Pemain Real Madrid Tak Terima Kalah dari Bayern Munchen?Siapa Hector Fort, Bek Sayap Lulusan La Masia yang Buat Inter Rela Menukarnya dengan Bastoni
Ia secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menulis sejarah gemilang bersama Real Madrid.
Namun hingga kini, janji tersebut belum terwujud. Selain Piala Super Eropa dan Piala Interkontinental—yang diraih tak lama setelah kedatangannya—Los Blancos gagal menambah koleksi trofi bergengsi mereka musim ini.
Kegagalan di Liga Champions menjadi pukulan paling telak. Kompetisi yang selama ini identik dengan kejayaan Real Madrid justru menjadi panggung kekecewaan bagi Mbappe.
Yang lebih mencolok, “kutukan” Liga Champions Mbappe masih berlanjut.
Bersama PSG maupun Real Madrid, ia belum pernah meraih trofi tersebut, meskipun secara individu tampil luar biasa.
Padahal, secara kualitas, Mbappe tak pernah diragukan. Kecepatan, ketajaman, dan kemampuannya mencetak gol di momen krusial membuatnya menjadi salah satu pemain paling berbahaya di dunia.
