Namun, sepak bola tetaplah permainan tim—dan di sinilah Real Madrid belum mampu memberikan dukungan maksimal untuk mengantarkannya menuju gelar juara.
Sementara itu, klub-klub lain terus melangkah. PSG, mantan klub Mbappe, bahkan berhasil melaju hingga semifinal musim ini—sebuah pencapaian yang gagal diraih Real Madrid.
Musim ini menjadi gambaran kontras bagi Mbappe. Di satu sisi, ia memecahkan rekor dan mengukuhkan diri sebagai legenda hidup Liga Champions.
Baca Juga:Mimpi Buruk AC Milan Jika Tak Lolos ke Liga Champions: Potong Gaji dan Jual Pemain BintangFabregas Masuk Daftar Kandidat Pengganti Guardiola di Manchester City
Di sisi lain, ia kembali harus menelan kekecewaan karena gagal membawa timnya meraih gelar.
Bagi Real Madrid, situasi ini menjadi alarm serius. Memiliki pemain sekelas Mbappe seharusnya menjadi jaminan kesuksesan, bukan justru menghadirkan paradoks antara pencapaian individu dan kegagalan kolektif.
Kini, pertanyaan besar muncul: apakah Mbappe mampu mematahkan kutukan tersebut di masa depan?
Atau justru Liga Champions akan terus menjadi mimpi yang sulit digapai, bahkan bagi pemain sehebat dirinya?
Yang jelas, selama trofi itu belum diraih, rekor demi rekor Mbappe akan selalu dibayangi satu hal—gelar yang belum juga datang.
