TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Jumat siang, 12 Desember 2025, matahari di Kota Tasikmalaya seperti sedang ikut rapat mendadak: panas, dekat, dan senang tampil.
Tepat setelah Salat Jumat, Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan muncul di Jalan Pemuda—dengan rombongan, tentu saja.
Ini sidak dadakan. Atau, seperti kata anak muda sekarang: ngecek lokasi biar nggak salah-salah amat.
Baca Juga:Polemik Proyek Padel di Kota Tasikmalaya: Rekomendasi Stop Pengerjaan Sementara DiabaikanPolres dan Pemkot Tasik Beri Ruang Inklusif: Siswa Difabel Disambangi Kapolres, Sekda Lepas Konvoi
PKL yang baru dua hari direlokasi dari kawasan Masjid Agung langsung mengerubungi.
Ada yang membawa senyum, ada pula yang membawa keluhan yang mereka simpan sejak hari pertama: omzet anjlok. Drastis.
Kita selalu percaya, tidak ada tempat yang lebih jujur dibanding lapak PKL.
Mereka tidak mengenal retorika. Bila pembeli sepi, mereka bilang sepi. Bila rugi, ya rugi.
Dan bila omzet dari Rp 200 ribu kini tinggal Rp 30 ribu, tidak ada alasan untuk bersyukur yang dibuat-buat.
Tapi Yuyun—seorang PKL yang diwawancara TikTok Radartasik.id—tetap punya optimisme khas rakyat kecil:
“Alhamdulillah hari ini udah dapat Rp 70.000,” katanya.
Nada suaranya seperti orang yang baru menemukan jalan pulang setelah tersesat setengah hari.
Baca Juga:Eks Selokan Diurug, Drainase Menjerit: PUTR Stop Sementara Proyek Padel di Kota TasikmalayaDuh! Stunting Sentuh 12,16 Persen di Kota Tasikmalaya, Konvergensi Program Harus Diperbaiki
Di sisi lain, ada adegan kecil yang justru paling menggelitik: ketika tim pendamping wali kota menolak wawancara karena beliau mau makan siang dulu.
Mungkin ini hal sepele.
Tapi di tengah PKL yang omzetnya turun 80 persen, alasan itu terdengar seperti
“tunggu ya, perut pejabat lebih darurat.”
Kita jadi ingat kebiasaan lama: kalau lapar saat kerja lapangan, kita sering menahan dulu sampai semua selesai.
Justru karena kalau kita makan, kita tidak lapar—tapi rakyat bisa tetap lapar. Tentu itu cerita masa lalu, tapi pantas diingat.
Tapi kita juga melihat Wali Kota Viman tidak sekadar datang untuk selfie. Ia mendengar. Menampung keluhan. Mencatat harapan. Dan sesekali mengangguk.
Meski para pedagang mungkin lebih berharap anggukan itu berubah jadi gapura baru—seperti usulan mereka, bukan hanya janji “akan dicarikan solusi terbaik”.
Yadi, koordinator PKL di tempat relokasi, malah terdengar sangat halus komentarnya.
