Tidak ada figur seperti Marotta di Milan yang memahami realitas kompetisi Italia secara mendalam.
Akibatnya, Milan tak hanya gagal bersaing di Serie A, tetapi juga dua musim berturut-turut tersingkir lebih awal dari Liga Champions.
Bahkan musim depan, mereka dipastikan absen dari panggung terbesar Eropa itu.
Baca Juga:Szymon Marciniak: Wasit Pendukung Madrid yang Dibenci Inter Milan dan BarcelonaSambutan Curva Sud AS Roma Bikin Edoardo Bove Menangis di Olimpico
Kondisi ini ironis, mengingat Liga Champions adalah sumber pemasukan yang sangat diandalkan oleh model bisnis RedBird.
Kegagalan meraih hasil di lapangan pun otomatis berdampak langsung pada performa finansial klub, mematahkan narasi awal Cardinale tentang kesinambungan ekonomi yang dibangun dari fondasi sportif.
Distaso juga menyoroti lambannya reaksi manajemen Milan terhadap kondisi tersebut.
Wacana soal kembali merekrut direktur olahraga dengan latar belakang sepak bola terus diulang, namun tak kunjung terealisasi.
Proses internal pun tampak seperti ‘casting berkepanjangan’ yang tak kunjung mengarah pada solusi konkret.
“Modus operandinya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, seolah-olah tidak ada pelajaran yang bisa diambil dari kegagalan,” tulis Distaso.
“Sementara Inter telah memberikan contoh nyata bagaimana strategi yang realistis dan terukur bisa membawa klub ke puncak, Milan justru tampak jalan di tempat,” lanjutnya.
Dengan ketimpangan kian mencolok antara dua klub kota Milan, pernyataan Cardinale kini justru menjadi potret kegagalan visi yang ia bangun sendiri.
Baca Juga:Liga Champions Musim Depan Belum Dimulai, Inter Sudah Kantongi Duit FantastisSihir Ranieri Bawa AS Roma Selangkah Lagi ke Liga Champions
Ketika kata-kata tak lagi sejalan dengan kenyataan, yang tersisa hanyalah ironi pahit yang ditanggung oleh klub sebesar AC Milan.
