Setan Pun Butuh Tempat Nongkrong!

Halloween, Tasikmalaya
Ilustrasi AI/ChatGPT
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Hantu kini tidak harus muncul di kuburan. Tidak pula harus menunggu tengah malam di bawah pohon beringin.

Hantu sekarang bisa nongkrong di kafe.Memesan kopi susu. Mendengarkan musik. Berfoto. Lalu mengunggahnya ke Instagram.

Itulah Halloween. Perayaan yang setiap 31 Oktober berlangsung di berbagai belahan dunia. Termasuk Indonesia. Bahkan mulai menjadi bagian dari pilihan hiburan di kawasan Priangan Timur.

Baca Juga:AMI Soroti Lemahnya Penanganan ATS di Tasikmalaya, Singgung Program Revitalisasi SekolahJabatan Pimpinan Baznas Kota Tasikmalaya Sedang “Dilelang”, Generasi Z Belum Bisa Masuk

Sejumlah kafe di kawasan ini disebut ikut menggelar pesta bertema Halloween. Dekorasinya seram. Kostumnya menyeramkan. Suasananya dibuat mencekam.

Tapi pengunjung justru datang untuk bersenang-senang. Aneh? Tidak juga.Yang menarik justru bukan hantunya.

Melainkan alasan mengapa pesta yang berasal dari kebudayaan Barat itu mulai mendapat tempat di wilayah yang memiliki akar tradisi Sunda dan kehidupan keagamaan yang kuat.

Tasikmalaya, misalnya. Kota yang selama ini dikenal dengan identitas religiusnya. Kota santri. Kota dengan banyak pesantren. Kota yang kehidupan sosial masyarakatnya masih erat dengan nilai-nilai Islam dan tradisi lokal.

Kini sebagian ruang hiburannya mulai bersentuhan dengan Halloween. Apakah ini pertanda perubahan budaya? Atau hanya perubahan strategi bisnis? Jawabannya mungkin lebih sederhana: hantu ternyata juga bisa dijadikan alat pemasaran.

Bagi pemilik kafe, Halloween bisa dilihat dari sudut yang berbeda. Bukan soal sejarah bangsa Celtic. Bukan pula soal dunia roh.

Melainkan soal pengunjung. Persaingan bisnis kafe semakin ketat. Menjual kopi enak saja belum tentu cukup. Tempat nyaman juga belum tentu menjamin kursi terisi.

Baca Juga:Langkah Besar SOG Tasikmalaya, Tak Lagi Sebatas Komunitas Pecinta VespaDi Saresahan Kepemudaan, Wali Kota Tasikmalaya Paparkan Asta Cita Presiden Supaya Dipahami Para Pemuda

Harus ada sesuatu yang berbeda. Maka muncullah acara tematik. Ada malam musik. Ada pertunjukan akustik. Ada pesta kostum. Dan ketika kalender menunjukkan 31 Oktober, Halloween menjadi salah satu tema yang bisa dipilih.

Secara bisnis, alasannya cukup masuk akal. Pesta Halloween berpotensi mendatangkan pengunjung baru. Membuat pelanggan lama kembali. Meningkatkan penjualan makanan dan minuman.

Sekaligus menciptakan konten promosi yang menarik di media sosial. Apalagi generasi muda. Mereka tidak hanya membeli kopi. Mereka juga membeli pengalaman.

Membeli suasana. Membeli kesempatan berfoto. Dan terkadang, membeli alasan untuk membuat Instagram Story.

0 Komentar