Setan Pun Butuh Tempat Nongkrong!

Halloween, Tasikmalaya
Ilustrasi AI/ChatGPT
0 Komentar

Bagi sebagian anak muda, Halloween mungkin hanya hiburan. Kesempatan berkumpul, mengenakan kostum unik, dan menikmati suasana berbeda.

Bagi sebagian masyarakat lain, simbol-simbol Halloween bisa menimbulkan keberatan karena dianggap kurang selaras dengan nilai agama dan budaya setempat.

Kedua pandangan itu perlu dipahami. Tidak semua peserta Halloween sedang meninggalkan identitas budayanya. Sebaliknya, tidak semua orang yang mempertanyakan Halloween berarti menolak modernitas.

Baca Juga:AMI Soroti Lemahnya Penanganan ATS di Tasikmalaya, Singgung Program Revitalisasi SekolahJabatan Pimpinan Baznas Kota Tasikmalaya Sedang “Dilelang”, Generasi Z Belum Bisa Masuk

Mengapa Tidak Mengangkat Hantu Lokal?Ini yang menarik. Priangan Timur sebenarnya tidak kekurangan cerita menyeramkan. Ada kisah jurig. Ada kuntilanak. Ada cerita tentang tempat angker. Ada legenda yang diwariskan dari mulut ke mulut.

Masyarakat Sunda bahkan memiliki kekayaan folklor yang sangat luas. Lantas mengapa harus selalu menggunakan simbol Halloween dari Barat? Mengapa bukan mengangkat cerita rakyat Priangan?Mengapa tidak membuat malam dongeng misteri Sunda? Atau festival kostum tokoh legenda lokal?.

Tentu, tradisi lokal tidak harus dipertentangkan dengan budaya asing. Kreativitas justru bisa tumbuh dari pertemuan keduanya. Namun, pertanyaan itu layak diajukan kepada pelaku usaha kreatif.

Sebab ketika sebuah kafe mampu menghadirkan suasana Halloween, seharusnya kafe yang sama juga mampu mengemas kekayaan budaya lokal menjadi hiburan yang menarik.

Bahkan mungkin lebih khas. Lebih dekat dengan masyarakat. Dan memiliki identitas yang tidak mudah ditiru daerah lain.

Ada satu hal yang perlu direnungkan.Globalisasi membuat budaya bergerak sangat cepat.

Apa yang populer di Amerika hari ini bisa menjadi tren di Indonesia dalam waktu singkat. Film, media sosial, musik, dan industri hiburan mempercepat perpindahan itu.

Baca Juga:Langkah Besar SOG Tasikmalaya, Tak Lagi Sebatas Komunitas Pecinta VespaDi Saresahan Kepemudaan, Wali Kota Tasikmalaya Paparkan Asta Cita Presiden Supaya Dipahami Para Pemuda

Tidak ada pagar budaya yang benar-benar mampu menghentikannya. Namun, masyarakat tetap memiliki kemampuan untuk memilih.

Menerima sesuatu yang dianggap bermanfaat. Menyesuaikan sesuatu yang masih asing. Atau menolak sesuatu yang dinilai tidak sesuai dengan nilai yang diyakini.

Karena itu, penyelenggaraan Halloween di kafe-kafe Priangan Timur tidak perlu langsung dianggap sebagai ancaman budaya.

Tetapi juga tidak harus diterima tanpa pertanyaan. Pemilik usaha memiliki kepentingan ekonomi. Pengunjung memiliki kebebasan menentukan hiburan.

Sementara masyarakat memiliki hak menyampaikan pandangan mengenai lingkungan sosial dan budayanya. Yang diperlukan adalah kepekaan. Kepekaan membaca pasar. Kepekaan memahami masyarakat. Dan kepekaan menjaga agar kegiatan bisnis tidak menimbulkan gesekan sosial yang sebenarnya bisa dihindari.

0 Komentar