Pada akhirnya, Halloween di Priangan Timur menghadirkan ironi kecil. Di tanah yang kaya tradisi sendiri, sebagian pelaku usaha justru melihat peluang bisnis dari tradisi negeri lain.
Mungkin karena lebih populer. Mungkin karena lebih mudah dipasarkan. Mungkin juga karena generasi muda sudah lebih akrab dengan Halloween melalui layar telepon genggam daripada cerita rakyat dari kampungnya sendiri.
Itu bukan kesimpulan yang harus diterima begitu saja. Tetapi cukup menjadi bahan renungan. Sebab persoalan sesungguhnya bukan apakah anak muda boleh mengenakan kostum vampir. Bukan pula apakah kafe boleh memasang dekorasi labu.
Baca Juga:AMI Soroti Lemahnya Penanganan ATS di Tasikmalaya, Singgung Program Revitalisasi SekolahJabatan Pimpinan Baznas Kota Tasikmalaya Sedang “Dilelang”, Generasi Z Belum Bisa Masuk
Melainkan apakah masyarakat Priangan Timur mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.Halloween boleh datang. Kreativitas boleh berkembang. Bisnis kafe pun tentu perlu hidup.
Tetapi jangan sampai masyarakat lebih mengenal legenda hantu dari Amerika daripada kekayaan cerita rakyat dari tanah kelahirannya sendiri.
Dan jangan sampai pula para pelaku usaha lebih sibuk mendatangkan hantu untuk menarik pelanggan daripada menghadirkan inovasi yang benar-benar berakar pada budaya setempat.
Halloween hanya berlangsung semalam.Tanggal 31 Oktober. Besoknya, kostum dilepas. Dekorasi dibongkar. Labu disimpan. Hantu pulang.
Kafe kembali menjual kopi seperti biasa.Yang tertinggal hanyalah pertanyaan:Apakah Halloween benar-benar dibutuhkan masyarakat Priangan Timur, atau hanya dibutuhkan pemilik kafe untuk menambah omzet? Barangkali jawabannya ada di meja kasir. Bukan di dunia arwah. (red)
