TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada orang masuk ruang redaksi untuk menjadi wartawan. Ada yang masuk ruang redaksi untuk belajar menulis. Ada pula yang datang ke sana untuk menemukan jalan hidupnya.
Imam Mudofar, S.Hum., termasuk yang terakhir. Saya biasa memanggilnya Dofar. Belakangan ini kami beberapa kali kembali berdiskusi. Rasanya seperti reuni kecil.
Bukan reuni dengan teman seangkatan, melainkan dengan mantan anak didik. Maaf, istilah itu saya pakai karena dulu saya memang pernah memberinya ruang belajar di Radar Tasikmalaya.
Baca Juga:BPK: Kas Daerah Kota Tasikmalaya Tidak Cukup untuk Menutup Utang 2025!Festival Lampu Lumiland Nyalakan Pertengkaran, Vendor Sebut Pemkot Tasikmalaya Sebagai Penyelenggara
Sekarang Dofar sudah menjadi orang politik. Ia dipercaya menjadi Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Tasikmalaya. Sebelumnya, ia juga tercatat sebagai pengurus DPD Golkar Jawa Barat.
Jarak dari meja redaksi ke meja politik ternyata tidak sejauh yang dibayangkan.Setidaknya bagi Dofar. Saya masih ingat masa-masa awalnya di Radar Tasikmalaya. Ia baru lulus kuliah. Mencoba peruntungan sebagai wartawan. Bekalnya bukan hanya ijazah. Ia punya sesuatu yang lebih penting untuk pekerjaan menulis: kecekatan menangkap persoalan.
Tulisan-tulisannya cukup lincah. Saya yang ketika itu saya masih menjadi redaktur pelaksana memberinya ruang menulis cukup luas.
Saya tidak ingin terlalu banyak membatasi. Wartawan muda perlu diberi kesempatan. Bukan hanya kesempatan menulis, tetapi juga kesempatan menemukan cara berpikirnya sendiri. Dofar punya satu modal yang terasa menonjol: kritis.
Sebenarnya saya tidak terlalu heran. Sebelum menjadi wartawan, ia sudah terbiasa menjadi aktivis kampus. Turun ke jalan. Menyampaikan aspirasi. Berhadapan dengan persoalan masyarakat dari sudut pandang anak muda yang tidak selalu puas dengan jawaban resmi.
Ketika masuk ruang redaksi, kebiasaan itu tidak hilang. Justru mendapat tempat baru.Kalau dulu ia menyampaikan aspirasi lewat demonstrasi, kini ia bisa menyampaikannya melalui tulisan berita.
Bedanya, demonstrasi membutuhkan pengeras suara. Berita membutuhkan kalimat yang tepat.
Tentu saja, menjadi wartawan tidak cukup hanya bermodal keberanian mengkritik. Harus ada disiplin, ketelitian, dan kemampuan memisahkan fakta dari pendapat. Tetapi bagi saya, keberanian bertanya merupakan modal awal yang penting.
Baca Juga:Penurunan Angka Kemiskinan di Kota Tasikmalaya Dinilai Tidak Masuk AkalPenataan Dadaha Mulai Tergambar, Khususnya Area Parkir dan Perdagangan
Di Radar, Dofar bertemu dengan orang-orang yang latar belakangnya berbeda-beda. Tidak semua jurnalis lahir dari bangku pendidikan jurnalistik. Ada yang datang dengan pengalaman organisasi, ada yang membawa bekal pendidikan, ada pula yang menemukan dirinya justru setelah masuk ke ruang redaksi.
