Keberagaman itulah yang membuat ruang redaksi hidup. Dofar akhirnya memilih pergi. Bukan karena tidak kerasan. Bukan pula karena ada persoalan yang membuatnya harus angkat kaki. Ia hanya merasa ada jalan lain yang lebih sesuai dengan potensi dirinya.
Saya sudah menduga sejak awal: menjadi wartawan mungkin bukan tujuan akhirnya.Saya tidak pernah menganggap itu sebagai masalah. Orang boleh belajar di satu tempat, kemudian tumbuh di tempat lain. Yang penting, ia tahu ke mana hendak melangkah. Dan Dofar memilih politik.
Ada hal menarik dari perjalanan hidupnya. Dofar bukan orang yang hanya mengenal organisasi dari baliho dan kartu anggota.
Baca Juga:BPK: Kas Daerah Kota Tasikmalaya Tidak Cukup untuk Menutup Utang 2025!Festival Lampu Lumiland Nyalakan Pertengkaran, Vendor Sebut Pemkot Tasikmalaya Sebagai Penyelenggara
Ia pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Queen Al Falah, Ploso, Kediri. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Surabaya, pada 2013, di jurusan Sastra Indonesia.
Skripsi yang ditulisnya berjudul Identitas Surabaya dalam Antologi Puisi Wong Kam Pung Karya F. Aziz Manna.
Judul itu menunjukkan bahwa ia pernah bergelut dengan sastra, identitas, dan cara manusia membaca lingkungan sosialnya.
Pada 2012, ia juga mengikuti program pertukaran pelajar di Faculty of Arts and Social Sciences, Universiti Malaya, Malaysia.
Latar belakangnya tidak berhenti di kampus. Ia aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama melalui GP Ansor dan Banser. Ia pernah mengemban tugas sebagai Kasatkorcab Banser. Ia juga menulis sejumlah artikel keislaman dan sosial kemasyarakatan.
Di luar aktivitas organisasi, ia mengajar mata pelajaran Seni Budaya di SMP Islam Nurul Yaqin.
Pesantren memberinya bekal keagamaan. Kampus mengajarinya membaca gagasan. Aktivisme mempertemukannya dengan persoalan publik. Jurnalistik melatihnya menyusun fakta dan menyampaikan kritik. Pendidikan membuatnya berhadapan dengan generasi yang sedang tumbuh.
Baca Juga:Penurunan Angka Kemiskinan di Kota Tasikmalaya Dinilai Tidak Masuk AkalPenataan Dadaha Mulai Tergambar, Khususnya Area Parkir dan Perdagangan
Lalu politik menjadi ruang berikutnya. Tentu, pengalaman itu tidak otomatis menjadikan seseorang politisi yang baik. Politik tetap membutuhkan kemampuan membaca keadaan, membangun kepercayaan, mengelola perbedaan, dan mengambil keputusan.
Tetapi setidaknya, Dofar tidak datang ke politik dengan tangan kosong. Ia pernah menjadi bagian dari dunia yang mengamati kekuasaan dari luar. Kini ia masuk ke dalam salah satu organisasi politik yang ikut menentukan arah kekuasaan.
