Di situlah tantangannya berubah. Menjadi wartawan dan menjadi politisi memiliki persamaan sekaligus perbedaan.
Keduanya sama-sama berhadapan dengan kepentingan publik. Keduanya membutuhkan kemampuan berkomunikasi. Keduanya juga harus berhadapan dengan kritik.
Namun wartawan idealnya menjaga jarak dari kepentingan politik yang sedang diberitakannya. Politisi justru harus masuk ke dalam proses politik, memperjuangkan kepentingan, membangun dukungan, dan mengambil posisi.
Baca Juga:BPK: Kas Daerah Kota Tasikmalaya Tidak Cukup untuk Menutup Utang 2025!Festival Lampu Lumiland Nyalakan Pertengkaran, Vendor Sebut Pemkot Tasikmalaya Sebagai Penyelenggara
Dofar tentu memahami perbedaan itu. Ia pernah berada di satu sisi, sekarang menempuh perjalanan di sisi yang lain.
Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan kembali menulis lebih banyak. Atau justru semakin sibuk mengurus partai, kader, dan agenda politik Kabupaten Tasikmalaya.
Yang jelas, perjalanan dari ruang redaksi menuju ruang politik bukan sekadar pergantian pekerjaan. Ada perubahan cara memandang persoalan. Ada tanggung jawab yang berbeda. Ada pula ujian baru yang harus dijawab.
Dulu, ketika menjadi wartawan, ia bisa mengajukan pertanyaan kepada politisi. Sekarang, sebagai pengurus partai, ia harus siap menjawab pertanyaan publik.
Dulu ia menulis tentang persoalan yang ditemukan di lapangan. Sekarang ia ikut berada dalam organisasi yang dituntut mampu menawarkan jalan keluar.
Itulah lingkaran yang menarik dalam perjalanan Dofar. Dan bagi saya, setiap kali kami kembali berdiskusi, ada perasaan tersendiri. Seperti melihat seseorang yang pernah duduk di bangku belajar, kini berjalan dengan pilihannya sendiri.
Saya tidak merasa kehilangan ketika ia meninggalkan dunia jurnalistik. Sebaliknya, saya senang melihatnya terus berkembang.
Baca Juga:Penurunan Angka Kemiskinan di Kota Tasikmalaya Dinilai Tidak Masuk AkalPenataan Dadaha Mulai Tergambar, Khususnya Area Parkir dan Perdagangan
Sebab tugas seorang redaktur bukan membuat wartawan selamanya berada di ruang redaksi. Tugasnya juga memberi ruang bagi orang muda untuk menemukan kemampuan dan jalannya sendiri.
Dofar sudah menemukan jalannya. Kini ia menjadi Sekretaris DPD Golkar Kabupaten Tasikmalaya periode 2025-2030.
Jabatan itu tentu bukan garis finis. Justru garis start untuk tanggung jawab yang lebih besar.
Saya hanya berharap satu hal: jangan sampai keberanian kritis yang dulu menjadi modalnya di ruang redaksi ikut tertinggal di sana.
Sebab politik juga membutuhkan orang yang berani bertanya. Bahkan, kadang-kadang, lebih membutuhkan orang yang berani mengoreksi dirinya sendiri.
