TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kolaborasi perguruan tinggi dan dunia industri lintas negara mulai membuka peluang baru bagi pelaku usaha lokal.
Tak sekadar bertukar ilmu di ruang kuliah, kemitraan Southern Leyte State University (SLSU) Filipina, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Tasikmalaya, dan Regional Economic Development Foundation (REDEF) diarahkan untuk membuka akses ekspor, investasi, hingga pengembangan bisnis ke pasar Filipina.
Langkah tersebut mengemuka dalam Strategic Partnership Meeting: A Collaboration Between SLSU, REDEF, and UPI Tasikmalaya Campus, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga:Mahasiswa Bisnis Pariwisata UMB Siap Hadapi Pasar Global, Perkuat Narasi dan Literasi DigitalHUT ke-62 Golkar di Kota Tasikmalaya, Ziarah Pahlawan Jadi Pengingat Pengabdian untuk Rakyat
Dalam pertemuan itu, rombongan SLSU mengunjungi sejumlah perusahaan dan lembaga pendidikan di Kota Tasikmalaya untuk menjajaki peluang kerja sama secara langsung.
Ketua REDEF, Santi N. Susanti mengatakan, penjajakan tersebut memperlihatkan potensi kolaborasi yang berbeda di setiap sektor.
Mulai dari industri manufaktur, makanan dan minuman (F&B), hingga pendidikan vokasi, semuanya berpeluang dikembangkan menjadi kemitraan bisnis lintas negara.
Pada sektor manufaktur, misalnya, UMKM garmen dan tas Twilly di Kecamatan Indihiang menjajaki peluang menjadi pemasok produk merchandise bagi SLSU.
Produk tersebut juga berpotensi diperkenalkan kepada perguruan tinggi lain di Filipina melalui jejaring universitas tersebut.
“Selain menjadi pemasok merchandise, ada peluang untuk membuka pasar baru di Filipina melalui ekspor langsung,” ujar Santi.
Menurut dia, Twilly sebenarnya telah melakukan penjualan ke pasar luar negeri melalui platform daring, termasuk Shopee.
Baca Juga:290 Atlet dari 18 Kota dan Kabupaten Berebut Tiket Prestasi di GOR Susi Susanti, PBSI Jabar Bidik KejurnasSinergi Foundation Ajak Publik Ubah Solidaritas Palestina Jadi Aksi Nyata
Namun, penjajakan bersama SLSU membuka peluang untuk mengembangkan jalur ekspor langsung (direct export).
REDEF pun berpeluang mengambil peran dalam pendampingan pengembangan ekspor, mulai dari penguatan strategi pemasaran hingga penjajakan transaksi dengan mitra di Filipina.
Tahap selanjutnya akan dilakukan melalui komunikasi dengan pemilik usaha serta penyiapan sampel dan spesifikasi produk.
Peluang berikutnya muncul dari sektor kuliner. Siloka, salah satu pelaku usaha kopi di Tasikmalaya, mendapat tawaran untuk menjajaki pembukaan gerai melalui skema waralaba atau franchise di Filipina.
Santi menjelaskan, pihak SLSU tertarik dengan karakter rasa kopi Tasikmalaya yang dinilai berbeda dari produk yang biasa mereka temui.
Cita rasa tersebut dinilai memiliki potensi untuk diperkenalkan kepada konsumen Filipina.
