TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Industri pariwisata global tak lagi cukup mengandalkan destinasi indah dan fasilitas mewah untuk memikat wisatawan.
Di tengah persaingan digital dan perubahan perilaku pelancong, kemampuan bercerita, penguasaan bahasa asing, kecerdasan budaya, serta kepedulian terhadap lingkungan menjadi modal penting untuk memenangkan pasar.
Tantangan tersebut menjadi sorotan dalam rangkaian studium generale dan kuliah umum di Program Studi Bisnis Pariwisata, Fakultas Vokasi, Universitas Mayasari Bakti (UMB) Tasikmalaya.
Baca Juga:HUT ke-62 Golkar di Kota Tasikmalaya, Ziarah Pahlawan Jadi Pengingat Pengabdian untuk Rakyat290 Atlet dari 18 Kota dan Kabupaten Berebut Tiket Prestasi di GOR Susi Susanti, PBSI Jabar Bidik Kejurnas
Kegiatan ini membekali mahasiswa agar tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menghadapi dinamika industri perjalanan wisata yang semakin kompetitif.
Dosen sekaligus praktisi literasi, Inggri Dwi Rahesi, M.Pd., menegaskan, kemampuan berbahasa merupakan fondasi penting dalam profesi usaha perjalanan wisata.
Mulai dari menyusun rencana perjalanan (itinerary), menulis materi promosi, bernegosiasi dengan vendor, hingga menangani keluhan wisatawan, semuanya membutuhkan komunikasi yang tepat.
Menurut dia, rute perjalanan dan fasilitas hotel relatif mudah ditiru oleh kompetitor. Namun, kekuatan narasi melalui teknik storytelling dapat menjadi pembeda yang membuat sebuah paket wisata memiliki nilai lebih.
“Rute perjalanan dan fasilitas hotel itu sangat mudah ditiru oleh kompetitor bisnis mana pun. Namun, narasi dan cara bertutur yang hidup melalui metode storytelling adalah hal autentik yang membuat sebuah paket wisata tampak berbeda dan bernilai tinggi,” ujar Inggri, Selasa (20/10/2026).
Ia menjelaskan, wisatawan modern tidak sekadar membeli tiket untuk mengunjungi suatu tempat. Mereka juga mencari pengalaman, cerita, dan makna di balik destinasi yang dikunjungi.
Kampung Naga di Tasikmalaya, misalnya, berpotensi menjadi destinasi yang lebih menarik apabila dipromosikan melalui cerita yang mampu menggugah imajinasi calon wisatawan.
Baca Juga:Sinergi Foundation Ajak Publik Ubah Solidaritas Palestina Jadi Aksi NyataHonda Stylo 160 Bidik Gaya Hidup Komunitas, Riding Kini Berpadu Musik dan Fashion
Bukan sekadar daftar fasilitas dan informasi perjalanan, tetapi juga kisah tentang tradisi, kehidupan masyarakat, serta kearifan lokal yang menjadi identitas destinasi.
Artinya, keindahan destinasi perlu diimbangi kemampuan mengemas cerita. Sebab, di tengah banjir promosi digital, tempat wisata yang menarik belum tentu memenangkan perhatian jika gagal menyampaikan keistimewaannya.
Selain kemampuan komunikasi, keberlanjutan lingkungan menjadi kompetensi yang tak kalah penting bagi calon profesional pariwisata.
