Sinergi Foundation Ajak Publik Ubah Solidaritas Palestina Jadi Aksi Nyata

Sinergi Kebaikan untuk Palestina
Talkshow dan bedah buku Akar Sejarah Solidaritas Indonesia - Palestina di Auditorium Bandung Creative Hub, Sabtu (17/10/2026). istimewa
0 Komentar

BANDUNG, RADSIK – Solidaritas untuk Palestina tak cukup berhenti pada unggahan, slogan, atau ingatan sejarah. Di tengah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan, kepedulian perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata.

Mulai dari memperkuat literasi sejarah hingga menyalurkan bantuan kemanusiaan, setiap langkah memiliki arti bagi masyarakat Palestina.

Semangat itulah yang diusung Sinergi Amil Zakat (SAZ)–Sinergi Foundation bersama Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) melalui kegiatan From History to Solidarity di Auditorium Bandung Creative Hub, Sabtu (17/10/2026).

Baca Juga:Honda Stylo 160 Bidik Gaya Hidup Komunitas, Riding Kini Berpadu Musik dan FashionMusim Hujan Segera Tiba, Pupuk Kujang Siapkan 98 Ribu Ton Pupuk Subsidi di Jabar

Kegiatan ini menghadirkan ratusan peserta, termasuk perwakilan Forum Zakat dan berbagai komunitas. Mereka berkumpul untuk memperkuat solidaritas Indonesia terhadap Palestina melalui edukasi, refleksi sejarah, dan aksi kemanusiaan.

Dukungan sejumlah mitra, yakni Miray, Sahabat Mandiri Foundation, Cleo, Teman Gadget, Rumah Bunga, dan Maira, turut mengiringi pelaksanaan kegiatan tersebut.

Salah satu agenda utama adalah talkshow dan bedah buku Akar Sejarah Solidaritas Indonesia–Palestina.

Diskusi menghadirkan Syaidina Sapta Wilandra, Pizaro Gozali Idrus, Thoudy Badai, dan Haidar Junda Rabbani sebagai narasumber.

Syaidina Sapta, yang mewakili penulis dari komunitas Jejak Islam untuk Bangsa, mengulas latar belakang penulisan buku sekaligus sejumlah fakta mengenai hubungan Indonesia dan Palestina pada masa lalu.

Sementara itu, Pizaro Gozali Idrus memperluas pembahasan ke konteks geopolitik dan dinamika isu Palestina kontemporer.

Ia menekankan pentingnya memperkuat edukasi publik, terutama di tengah derasnya arus informasi dan narasi mengenai konflik Palestina-Israel, termasuk melalui media berbahasa Indonesia.

Baca Juga:5.500 Lowongan Kerja Dibuka di Kota Tasikmalaya, Peluang Tembus 18 NegaraCAPD RSUD dr. Soekardjo, Cuci Darah Lebih Fleksibel agar Pasien Tetap Produktif

Pesannya jelas, kepedulian membutuhkan landasan pengetahuan. Tanpa pemahaman yang memadai, solidaritas berisiko berhenti sebagai reaksi sesaat, bukan gerakan yang bertahan dalam jangka panjang.

Diskusi semakin hidup ketika Thoudy Badai membagikan pengalamannya bergabung dalam gerakan Global Sumud Flotilla 2.0.

Pengalaman tersebut menggambarkan bahwa solidaritas terhadap Palestina tidak mengenal batas agama, ras, maupun latar belakang ekonomi.

Kepedulian terhadap perjuangan rakyat Palestina, menurut pesan yang mengemuka dalam diskusi, dapat tumbuh dari siapa saja yang menjunjung nilai kemanusiaan.

Dari ruang literasi, pembahasan kemudian bergerak menuju aksi. Haidar Junda Rabbani, praktisi kemanusiaan dari Sinergi Amil Zakat–Sinergi Foundation, menegaskan bahwa bantuan untuk Palestina bukan sekadar transaksi donasi.

0 Komentar