Mahasiswa Bisnis Pariwisata UMB Siap Hadapi Pasar Global, Perkuat Narasi dan Literasi Digital

Mahasiswa Bisnis Pariwisata Universitas Mayasari Bakti Tasikmalaya
Para peserta serta pemateri studium generale dan kuliah umum di Program Studi Bisnis Pariwisata, Fakultas Vokasi, Universitas Mayasari Bakti (UMB) Tasikmalaya. istimewa
0 Komentar

Peneliti pariwisata kawasan tropis berkelanjutan, Airana Nafira Ramadhita, S.Hut., M.Si., mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya (biocultural diversity) yang besar.

Potensi tersebut harus dikelola dengan mempertimbangkan kelestarian ekosistem dan kesejahteraan masyarakat setempat.

“Selama ini, alam sering kali hanya diposisikan sebagai objek untuk dieksploitasi demi keuntungan materi jangka pendek. Pandangan modernitas seperti ini memisahkan manusia dari kewajibannya terhadap alam,” tutur Airana.

Baca Juga:HUT ke-62 Golkar di Kota Tasikmalaya, Ziarah Pahlawan Jadi Pengingat Pengabdian untuk Rakyat290 Atlet dari 18 Kota dan Kabupaten Berebut Tiket Prestasi di GOR Susi Susanti, PBSI Jabar Bidik Kejurnas

Merujuk pada kerangka perubahan transformatif Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) 2025, ia menjelaskan bahwa pariwisata berbasis alam semestinya menjadi sarana untuk membangun kembali hubungan manusia dengan lingkungan.

Karena itu, nilai suatu destinasi tidak cukup diukur dari pendapatan tiket, jumlah kunjungan, atau transaksi wisatawan.

Pengelola juga perlu memperhitungkan nilai ekologis, sosial, budaya, dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.

Airana mencontohkan kearifan lokal seperti sistem Sasi di Papua dan Maluku, Subak di Bali, Lubuk Larangan di Sumatra, serta pengelolaan hutan adat Dayak Iban di Sungai Utik.

Praktik-praktik tersebut menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal dapat berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Dengan pendekatan interpretasi wisata yang tepat, kekayaan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk wisata edukatif, seperti pengamatan burung (birdwatching), restorasi mangrove, hingga pengenalan ekosistem lamun.

Namun, potensi itu menghadapi tantangan nyata. Sampah plastik multilapis di kawasan wisata, asap kebakaran hutan, serta kerusakan lanskap akibat aktivitas ekstraktif menjadi ancaman yang perlu diperhitungkan.

Baca Juga:Sinergi Foundation Ajak Publik Ubah Solidaritas Palestina Jadi Aksi NyataHonda Stylo 160 Bidik Gaya Hidup Komunitas, Riding Kini Berpadu Musik dan Fashion

Lonjakan kunjungan akibat tren media sosial juga harus dikelola secara bijak. Ketika popularitas destinasi meningkat lebih cepat daripada kesiapan pengelolaannya, kawasan konservasi berisiko menanggung beban sampah dan tekanan lingkungan yang lebih besar.

Dengan demikian, keberhasilan pariwisata tidak semestinya hanya diukur dari ramainya pengunjung. Destinasi yang dipadati wisatawan tetapi kehilangan daya dukung lingkungan justru berisiko menggerus aset utama yang dijualnya.

Tantangan lain datang dari perkembangan teknologi digital yang mengubah cara wisatawan merencanakan perjalanan.

Founder platform edukasi Idiomaku sekaligus praktisi travel leader internasional, Rahmat Hidayat, S.Par., M.Sc., mengatakan, pertumbuhan online travel agent (OTA), perjalanan mandiri, dan otomatisasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menuntut calon tenaga profesional pariwisata memiliki kompetensi lebih luas.

0 Komentar