Mahasiswa Bisnis Pariwisata UMB Siap Hadapi Pasar Global, Perkuat Narasi dan Literasi Digital

Mahasiswa Bisnis Pariwisata Universitas Mayasari Bakti Tasikmalaya
Para peserta serta pemateri studium generale dan kuliah umum di Program Studi Bisnis Pariwisata, Fakultas Vokasi, Universitas Mayasari Bakti (UMB) Tasikmalaya. istimewa
0 Komentar

“Tantangan terbesar saat ini adalah masifnya pertumbuhan Online Travel Agent (OTA), perjalanan mandiri, serta otomatisasi teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pemesanan. Menghadapi situasi ini, mahasiswa pariwisata tidak boleh hanya memiliki keahlian teknis operasional yang standar,” tambah Rahmat.

Menurut dia, karakter wisatawan global semakin beragam. Wisatawan keluarga, kelompok lanjut usia yang membutuhkan aksesibilitas khusus, hingga generasi Milenial dan Gen Z memiliki kebutuhan dan preferensi berbeda.

Kondisi tersebut menuntut pelaku pariwisata mampu memberikan layanan yang adaptif. Penguasaan bahasa asing, kecerdasan budaya (cultural intelligence), manajemen krisis, serta pemahaman keselamatan perjalanan menjadi bekal penting untuk menghadapi situasi di lapangan.

Baca Juga:HUT ke-62 Golkar di Kota Tasikmalaya, Ziarah Pahlawan Jadi Pengingat Pengabdian untuk Rakyat290 Atlet dari 18 Kota dan Kabupaten Berebut Tiket Prestasi di GOR Susi Susanti, PBSI Jabar Bidik Kejurnas

Profesional pariwisata juga dituntut mampu menjadi penghubung antarbudaya, sekaligus memberikan rasa aman dan pengalaman yang sesuai dengan kebutuhan wisatawan.

Rahmat mendorong mahasiswa mulai membangun portofolio sejak masih duduk di bangku kuliah.

Langkah yang dapat dilakukan antara lain mempelajari bahasa ketiga selain bahasa Inggris, menyusun itinerary berbasis riset, mengikuti sertifikasi kompetensi, serta mengembangkan konsep kegiatan kreatif.

Mahasiswa juga dapat merancang walking story tour atau festival literasi kuliner lokal yang mengangkat identitas daerah sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Bekal tersebut penting agar lulusan tidak sekadar menjadi pelaksana operasional, tetapi juga mampu menciptakan produk, mengembangkan pengalaman wisata, dan membaca peluang pasar.

Ketua Program Studi Bisnis Pariwisata UMB, Putri Mutiara Rakista, S.Sos., M.Ap., mengatakan, kuliah umum tersebut diikuti mahasiswa dari tingkat awal hingga tingkat akhir.

Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan pengalaman praktis para pelaku industri pariwisata.

Baca Juga:Sinergi Foundation Ajak Publik Ubah Solidaritas Palestina Jadi Aksi NyataHonda Stylo 160 Bidik Gaya Hidup Komunitas, Riding Kini Berpadu Musik dan Fashion

“Belajar dengan para praktisi pariwisata ini merupakan bagian dari kurikulum pembelajaran yang diterapkan di Universitas Mayasari Bakti, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar teori saja, tetapi juga belajar dari pengalaman para praktisi secara langsung,” tegasnya.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran lebih nyata mengenai kebutuhan industri, tantangan profesi, serta kompetensi yang harus dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja.

Di tengah persaingan global, ijazah tetap penting, tetapi kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, menguasai teknologi, dan menjaga keberlanjutan destinasi menjadi nilai tambah yang menentukan.

0 Komentar