TASIK, RADARTASIK.ID — Politik kadang punya dua wajah. Satu wajah terlihat di panggung. Penuh pidato, janji, dan tepuk tangan.
Wajah lainnya ada di kampung-kampung. Di rumah yang dindingnya mulai rapuh. Di jalan yang belum mulus. Dan di mata emak-emak jompo yang tetap menyimpan harapan.
Dr Usman Kusmana, M.Si., Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Tasikmalaya, memilih mendatangi wajah yang kedua. Sabtu (17/10/2026), ia kembali melaksanakan kegiatan Mapay Lembur. Jilid II.
Baca Juga:Kemiskinan Kota Tasikmalaya Turun ke 9,34 Persen, Viman: Berkat Kerja Kompak Bersama Seluruh PihakListriknya Terang, PAD-nya Remang-Remang
Bersama timnya, Usman menyusuri perkampungan. Mengunjungi orang-orang yang pernah berjuang bersamanya pada Pemilu 2024. Sekaligus melihat langsung keadaan masyarakat di daerah pemilihannya.
Namanya Mapay Lembur Ngalongokan Tim. Bahasanya Sunda. Maknanya akrab: menyusuri kampung, menemui tim, menjaga silaturahmi.
Tetapi kali ini bukan hanya soal tim. Ada warga yang perlu dibantu. Ada lingkungan yang perlu diperhatikan. Ada aspirasi yang selama ini mungkin hanya terdengar sepotong-sepotong.
Usman juga memberikan santunan kepada warga lanjut usia. Bantuan sederhana, tetapi peristiwa yang mengiringinya ternyata tidak sesederhana itu.
Ada emak-emak jompo yang menangis ketika menerima sedikit rezeki. Usman mengaku merasakan sesuatu yang berbeda ketika menyaksikan langsung kejadian itu.
Barangkali karena di hadapan orang yang sudah sepuh, nilai bantuan tidak selalu bisa dihitung dengan angka. Yang diterima bukan hanya uang. Ada perasaan bahwa mereka masih diingat. Bahwa di tengah kehidupan yang semakin berat, masih ada orang yang datang untuk menyapa.
Lalu doa-doa itu terucap. Salah satunya ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto, yang hari ini berulang tahun. Doa dari kampung. Dari orang-orang yang mungkin tidak pernah bertemu langsung dengan presidennya, tetapi berharap pemimpin negeri itu selalu diberi kesehatan dan kekuatan.
Baca Juga:Jangan Biarkan Kebaikan Terpecah! Zikir Bersama Jadi Ikhtiar Satukan Pedagang Pasar Cikurubuk Kota TasikmalayaAMI: Kritisnya Kapan-Kapan!
Perjalanan menyusuri kampung membuat persoalan pembangunan terlihat lebih nyata. Ada infrastruktur jalan yang perlu diperbaiki. Ada rumah tidak layak huni. Ada persoalan fasilitas umum, mulai dari kebutuhan air bersih hingga sarana keagamaan.
Di atas kertas, semuanya bisa menjadi daftar usulan. Namun ketika dilihat langsung, setiap persoalan memiliki wajah manusia.
Jalan rusak bukan sekadar persoalan panjang dan lebar jalan. Ada warga yang setiap hari melewatinya untuk bekerja. Ada anak-anak yang harus berangkat sekolah. Ada petani yang membutuhkan akses untuk membawa hasil panen.
