Pembangunan infrastruktur harus tepat sasaran. Ekonomi lokal harus bergerak. UMKM harus memperoleh ruang untuk tumbuh. Pelayanan publik harus semakin baik.
Dan kemampuan fiskal daerah harus dikelola dengan cermat agar program pembangunan tidak berhenti pada slogan.
Di sinilah keduanya seharusnya berlomba. Kalau wali kota memiliki gagasan yang baik, wakil wali kota seharusnya ikut memperkuatnya.
Baca Juga:Dadaha Gemerlap, Jalanan Gelap! Event Lumiland Menunjukkan Lemahnya Pemkot TasikmalayaSDN Galunggung Borong Trofi Juara 1 Kompetisi LPS Kota Tasikmalaya 2026
Kalau wakil wali kota menemukan solusi yang lebih taktis, wali kota seharusnya terbuka untuk mempertimbangkannya.
Kalau salah satu memiliki kekurangan, yang lain membantu memperbaiki. Kalau ada program yang tidak berjalan, keduanya mencari jalan keluar.
Bukankah itu makna pasangan? Bukan berarti harus selalu sepakat. Tetapi harus tahu bagaimana bekerja ketika terjadi perbedaan. Berlomba dalam kebaikan jauh lebih bermanfaat daripada berlomba mendapatkan pembenaran.
Dalam politik Sunda, kita mengenal istilah pupuhu. Sosok yang dituakan. Orang yang dihormati. Tokoh yang bisa menjadi tempat meminta nasihat ketika suasana mulai tidak nyaman.
Dalam situasi seperti ini, peran tokoh senior menjadi penting. Bukan untuk mengambil alih kewenangan wali kota. Bukan untuk mendikte wakil wali kota.
Bukan pula untuk menentukan siapa yang harus menang dalam pertarungan politik berikutnya. Melainkan untuk mengingatkan keduanya bahwa ada tanggung jawab yang lebih besar daripada kepentingan pribadi atau kelompok.
Jika dahulu para tokoh politik, partai pengusung, dan tim koalisi ikut menyatukan kekuatan untuk memenangkan Pilkada 2024, sekarang mereka mempunyai kesempatan menunjukkan tanggung jawab moralnya.
Baca Juga:BKMM Kota Tasikmalaya Berkomitmen Perkuat Dampak Masjid, Hadirkan Pengajian di Beranda Media Sosial WargaKursi Dewas, Kota Cemas!
Duduklah bersama. Bicaralah secara terbuka. Jangan menunggu persoalan semakin besar. Tidak perlu ada panggung. Tidak perlu ada konferensi pers. Tidak perlu ada pernyataan yang sengaja ditujukan untuk menyindir pihak lain.
Cukup satu tujuan: mengembalikan komunikasi dan koordinasi agar pemerintahan berjalan lebih baik. Kalau memang ada kesalahpahaman, luruskan.Kalau ada pembagian tugas yang belum jelas, perjelas. Kalau ada komunikasi yang tersendat, bangun kembali.
Kalau ada perbedaan cara pandang, cari titik temu. Pupuhu yang baik bukan yang membuat salah satu pihak merasa menang, melainkan yang membuat keduanya kembali ingat mengapa mereka harus bekerja bersama.
