Wakil Wali Kota Kateumbleuhan!

Diky candra
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya mengamati sebuah video. Bukan video dangdut. Bukan video kampanye. Bukan pula video orang sedang marah-marah di media sosial.

Ini video Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra. Lokasinya di Dadaha. Waktunya Rabu, 7 Oktober 2026.

Acaranya syukuran Paguyuban Pedagang Kecil dan Mikro (PPKM) Komplek Dadaha. Mereka baru menempati lapak di shelter PKL Dadaha.

Baca Juga:Puluhan Jemaah Tertipu Travel Umroh Bodong di Tasikmalaya! Sudah Bayar Penuh, Tiket Pulang Harus Beli SendiriJalan Dadaha Bakal Dibuka Lagi! Hasil Evaluasi, Penutupan Belum Siap Untuk Diterapkan Permanen

Namanya dibuat keren: Shelter Recreation Center. Saya tidak tahu siapa yang memberi nama. Yang jelas, dari namanya saja sudah terasa seperti tempat rekreasi.Padahal yang pindah ke sana adalah para pedagang. Bukan wisatawan.

Diky datang seperti biasanya. Ikat kepala.Baju pangsi. Gaya Sunda. Tapi kali ini yang paling menarik bukan pakaiannya.

Melainkan kalimatnya. Diky bilang ia marah. “Teu ngarti.” Tidak mengerti.Katanya, setiap ada masalah selalu saja diarantep wae. Dibiarkan.

Padahal, menurut Diky, kalau ada masalah:Ajak ngobrol. Ngobrol yang benar. Sampai selesai. Kalimat itu langsung mendapat tepuk tangan.

Tepuk tangan memang sering menjadi alat ukur paling cepat. Kalau pejabat bicara lalu tepuk tangan terdengar keras, biasanya ada sesuatu yang memang dirasakan banyak orang. Atau minimal ada sesuatu yang ingin didengar banyak orang.

Yang lebih menarik adalah pengakuan Diky berikutnya. Ia mengaku tidak tahu-menahu soal penataan Dadaha. Tidak diajak. Tidak diberi informasi. Tiba-tiba saja sudah ada.“Ujug-ujug aya weh ka tembleuhan.” Kurang lebih begitulah rasa kalimatnya.

Saya jadi membayangkan: Dadaha ini sebenarnya sedang ditata oleh siapa?Karena wakil wali kotanya saja merasa tidak tahu.

Baca Juga:Malam Sibuk Tangani Kebakaran, Pagi-pagi Damkar Kota Tasik Sudah Diminta Urus Kalung Kucing Kondisi Dadaha Dinilai Potret Kegagalan Pemkot Tasikmalaya

Atau mungkin tahu setelah semuanya berjalan? Kalau begitu, ini bukan sekadar persoalan shelter. Ini persoalan komunikasi. Dalam pemerintahan, komunikasi itu seperti tali layangan. Kalau putus, layangannya bisa terbang ke mana-mana.

Yang hadir dalam acara itu memang ada pejabat. Diky didampingi Kepala Disporabudpar Deddy Mulyana. Tetapi ada pemandangan yang justru lebih menarik daripada yang hadir: siapa yang tidak hadir.

Tidak terlihat pejabat inti yang selama ini intens dalam urusan penataan kawasan Dadaha. Asda 1 tidak terlihat. Kasatpol PP tidak terlihat. Kadishub juga tidak terlihat. Padahal merekalah yang selama ini dekat dengan urusan penataan kawasan.

0 Komentar