Maka wajar kalau muncul pertanyaan sederhana: Ini acara siapa? Kalau ini acara pedagang, mengapa wakil wali kota yang datang? Kalau ini bagian dari penataan pemerintah, mengapa sebagian tim penataan tidak datang? Atau memang Dadaha sudah mempunyai jalan ceritanya sendiri?
Diky kemudian menjelaskan posisinya. Ia hadir karena undangan. Sederhana. “Jadi saya di sini karena menghadiri undangan saja.” Kalimat ini sebenarnya biasa.
Tetapi menjadi tidak biasa karena yang mengucapkannya adalah wakil wali kota.Artinya, seorang wakil kepala daerah datang ke sebuah acara yang berkaitan dengan persoalan penataan kawasan, tetapi mengaku tidak dilibatkan dalam prosesnya.
Baca Juga:Puluhan Jemaah Tertipu Travel Umroh Bodong di Tasikmalaya! Sudah Bayar Penuh, Tiket Pulang Harus Beli SendiriJalan Dadaha Bakal Dibuka Lagi! Hasil Evaluasi, Penutupan Belum Siap Untuk Diterapkan Permanen
Saya jadi ingat sebuah istilah: tahu setelah kejadian. Padahal biasanya wakil wali kota tahu sebelum kejadian. Minimal diberi tahu.
Yang membuat Diky semakin emosi ternyata bukan hanya Dadaha. Ada soal jadwal. Pada saat yang sama ia sebenarnya sudah mempunyai janji dengan pejabat parlemen pusat di Jakarta.
Membahas bantuan untuk Kota Tasikmalaya. Tetapi ia harus datang ke Dadaha. Kenapa? Karena undangan. Diky mengatakan badannya cuma satu.
Saya setuju. Wakil wali kota memang belum mempunyai dua badan. Mungkin nanti kalau teknologi sudah maju. Untuk sekarang masih satu. Masalahnya, agenda bisa dua. Bahkan tiga. Empat. Lima. Dan semuanya merasa paling penting.
Diky kemudian mengatakan ia sudah meminta bantuan. Minta disposisi. Tetapi tidak ada pejabat yang mau menggantikannya. Katanya: “Tidak ada yang mau. Catat! Tidak ada yang mau.”
Saya membayangkan notulennya. Agenda pertama: Dadaha. Agenda kedua: Jakarta.Agenda ketiga: mencari orang yang mau menggantikan.
Agenda ketiga ternyata paling sulit. Tidak ada yang mau. Maka Diky datang sendiri.Lalu marah sendiri. Dan akhirnya tepuk tangan sendiri bersama orang-orang yang hadir.
Baca Juga:Malam Sibuk Tangani Kebakaran, Pagi-pagi Damkar Kota Tasik Sudah Diminta Urus Kalung Kucing Kondisi Dadaha Dinilai Potret Kegagalan Pemkot Tasikmalaya
Tetapi ada satu kalimat Diky yang menurut saya jauh lebih penting daripada semua kemarahannya.
Ia mengatakan: “Saya, Diky Candra, demi Allah tidak takut harus tidak jadi wakil wali kota. Hari ini pun tidak ada masalah. Sumpah saya tidak takut.” Ini kalimat yang berat.
